Jika dulu perang dagang didominasi oleh tarif impor, kini kedua negara saling menggunakan kontrol ekspor dan kebijakan industri sebagai senjata ekonomi.
Menurut laporan Al Jazeera, China baru-baru ini memperketat ekspor produk berbasis tanah jarang seperti grafit dan magnet industri, sebagai respons terhadap kebijakan pembatasan chip canggih dari AS.
Langkah ini dianggap sebagai bentuk perlawanan strategis China terhadap dominasi teknologi barat.
Vina Nadjibulla dari Asia Pacific Foundation menyebut konflik ini sebagai “jenis perang dagang yang sangat berbeda dari hanya beberapa bulan lalu,” mengacu pada meningkatnya tekanan terhadap sektor teknologi dan manufaktur global.
Sementara itu, AS memperingatkan bahwa kebijakan kontrol ekspor oleh China dapat mendorong negara-negara lain untuk menjauh dari ketergantungan pada produk China.
Juga mempercepat proses decoupling (proses pemisahan atau pengurangan ketergantungan ekonomi antara dua negara) ekonomi global.
Ketegangan ini berpotensi mengguncang stabilitas rantai pasok internasional.
Para ahli menilai bahwa dunia kini memasuki era konflik ekonomi yang melibatkan pertarungan nilai, teknologi, dan pengaruh geopolitik—bukan sekadar soal defisit dagang atau tarif impor semata. (*)
Editor : Uways Alqadrie