Kabar duka itu dibenarkan oleh putranya, Jatmiko. “Bapak meninggal sekitar pukul tujuh pagi. Sebelumnya dirawat di ruang ICU, sempat sadar, tapi tadi pagi kondisinya menurun,” kata dia saat ditemui di rumah duka di kawasan Kebon Seni Timasan, Sukoharjo.
Menurut Jatmiko, sang ayah telah dirawat selama lima hari akibat penyakit jantung yang dideritanya. Dalam masa perawatan itu, kondisi Ki Anom sempat membaik sebelum akhirnya tak sadarkan diri.
Wasiat dan Pesan Terakhir
Beberapa hari sebelum wafat, Ki Anom sempat mengumpulkan anak-anaknya. Dalam pertemuan itu, ia berpesan agar keluarga tetap rukun dan melanjutkan perjuangannya menjaga kelestarian seni pedalangan.
Berdasarkan surat lelayu di rumah duka, mendiang Ki Anom Suroto meninggalkan seorang istri, delapan anak, dan 18 cucu.
“Beliau bilang, anak-anak harus rukun, jangan bertengkar. Lanjutkan apa yang sudah beliau perjuangkan,” tutur Jatmiko lirih.
Disemayamkan di Sukoharjo
Jenazah Ki Anom disemayamkan di rumah duka Kebon Seni Timasan, sebelum dimakamkan di Pemakaman Depokan, Juwiring, Klaten, sore ini pukul 15.00 WIB. Suasana haru menyelimuti keluarga dan para pelayat yang datang silih berganti.
Sejumlah seniman wayang dari berbagai daerah turut hadir memberikan penghormatan terakhir. “Ki Anom adalah panutan. Ia membawa wayang kulit ke panggung nasional,” ujar salah satu dalang muda asal Solo.
Perjalanan Seorang Maestro
Lahir di Sukoharjo, 11 Agustus 1948, Ki Anom Suroto dikenal luas sebagai dalang inovatif yang mampu memadukan pakem klasik dengan selera penonton modern. Ia kerap tampil di berbagai kota di Indonesia dan pernah mewakili Indonesia di panggung internasional.
Selain sebagai seniman, Ki Anom juga dikenal sebagai guru bagi banyak dalang muda. Ia mendirikan sanggar pedalangan dan aktif menggelar pentas untuk memperkenalkan wayang kepada generasi baru.
Editor : Uways Alqadrie