KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Peringatan Hari Santri bukan sekadar seremoni mengenang perjuangan kaum santri di masa lalu. Lebih dari itu, momen ini menjadi pengingat pentingnya pesantren sebagai pusat pembentukan karakter dan kepribadian generasi muda.
Pendidik Yayasan Pondok Modern Asy-Syifa Balikpapan, Mustain Hasan, menegaskan bahwa pesantren bukan hanya tempat belajar agama, tetapi juga tempat mendidik manusia agar berkepribadian baik dan beradab.
“Santri itu dibentuk bukan cuma supaya tahu mana halal dan haram, tapi juga supaya tahu bagaimana bersikap yang benar dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Setiap pagi, para santri di Asy-Syifa dilatih bangun sebelum subuh, menunaikan shalat berjamaah, mengantre mandi, membersihkan kamar, dan makan bersama.
Aktivitas sederhana itu, menurut Mustain, secara perlahan membentuk watak mandiri dan rasa tanggung jawab. “Pembiasaan seperti ini yang membuat santri kuat mental dan terbiasa hidup teratur,” katanya.
Ia menilai, esensi pendidikan pesantren terletak pada keseimbangan antara ilmu dan akhlak. “Ilmu tanpa akhlak itu berbahaya,” katanya. “Banyak orang pintar, tapi kalau tidak punya adab, ilmunya justru bisa jadi alat untuk merendahkan orang lain.”
Namun, Mustain tak menutup mata terhadap tantangan zaman. Ia mengamati melemahnya pendidikan karakter di lingkungan rumah dan sekolah umum. “Sekarang anak-anak banyak belajar dari media sosial, tapi kurang dapat teladan langsung dari orang-orang di sekitarnya,” sebutnya.
“Banyak fenomena tentang kurangnya adab siswa pada pendidiknya, itu tanda bahwa pendidikan karakter mulai goyah,” sambungnya.
Terkait isu bullying di pesantren, Mustain menegaskan bahwa pihaknya terus mengawasi agar tidak terjadi kekerasan. “Harus dibedakan antara pembinaan dan kekerasan. Santri senior memang diberi amanah membimbing adik kelasnya, tapi tetap dalam pengawasan. Prinsipnya, mendidik itu bukan menakut-nakuti, tapi menumbuhkan kesadaran dan adab,” jelasnya.
Ia menambahkan, pendidikan karakter tak bisa dibebankan pada lembaga pendidikan semata. Sinergi antara orang tua, guru, dan lingkungan sangat dibutuhkan. “Kalau semua ikut terlibat, insyaallah anak-anak kita tumbuh jadi generasi yang berilmu dan berakhlak. Karena sejatinya, tujuan pendidikan itu bukan hanya pintar, tapi jadi manusia yang beradab,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo