Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

30 Oktober Hari Oeang ke-79: Perjalanan Panjang Mata Uang Indonesia dari Zaman Kerajaan ke Rupiah

Uways Alqadrie • Kamis, 30 Oktober 2025 | 07:58 WIB
Foto istimewa
Foto istimewa

KALTIMPOST.ID, JAKARTA – Setiap tanggal 30 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Oeang Republik Indonesia (HORI), sebuah momen bersejarah yang menandai lahirnya mata uang nasional pertama, Oeang Republik Indonesia (ORI), pada tahun 1946. Peringatan ini bukan sekedar mengenang, tetapi juga menekankan arti penting ekonomi setelah proklamasi kemerdekaan.

Memasuki usia ke-79 pada tahun 2025, peringatan HORI mengusung tema “Wujudkan Semangat Asta Cita Lewat Donor Darah.” Tema ini merefleksikan semangat pengabdian dan kebersamaan insan Kementerian Keuangan dalam mendukung delapan cita-cita pembangunan nasional yang berfokus pada kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Ketok Palu! Biaya Haji 2026 Disetujui Rp 87,4 Juta, Jemaah Tanggung Rp 54 Juta

Beragam kegiatan digelar di seluruh Indonesia, mulai dari aksi donor darah hingga kegiatan sosial lainnya. Selain bentuk kepedulian terhadap sesama, kegiatan ini menjadi simbol sinergi antara lembaga keuangan negara dan masyarakat dalam membangun landasan ekonomi yang tangguh dan berkeadilan.

Menurut Kementerian Keuangan, HORI juga merupakan momen refleksi atas perjuangan panjang dalam membangun sistem keuangan negara yang berdaulat. ORI, yang menggantikan mata uang Belanda dan Jepang, menjadi tidak penting kepercayaan masyarakat terhadap Republik yang baru lahir kala itu.

Sejarah Mata Uang Indonesia: 

Perjalanan mata uang Indonesia tak bisa dilepaskan dari dinamika sejarah negeri ini. Sebelum lahirnya Rupiah yang kini kita genggam, bangsa ini melewati berbagai fase panjang — mulai dari koin logam di masa kerajaan, uang kolonial Belanda, hingga munculnya Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai simbol kemerdekaan ekonomi.

1. Zaman Kerajaan: Emas, Perak, dan Nilai Tukar Bernilai Sakral

Pada masa kerajaan-kerajaan besar seperti Sriwijaya, Majapahit, dan Mataram Kuno, aktivitas perdagangan sudah menggunakan alat tukar berupa logam. 

Photo
Photo
Di Kerajaan Jenggala, uang emas dan perak dikenal sebagai Krisnala. Majapahit punya Gobog, koin tembaga dengan bentuk unik yang kerap dianggap memiliki kekuatan mistik.

Baca Juga: Akhir Perjuangan Istri Bupati Purwakarta Om Zein Melawan Penyakit! Jejak Kiprah dari Anggota DPRD hingga Ketua PKK

Di masa itu, uang bukan sekadar alat tukar, tapi juga simbol status dan legitimasi kekuasaan. Setiap kerajaan mempunyai cap atau ukiran khas yang menandai wilayah kekuasaannya.

Zaman Islam: Dirham Emas dan Tulisan Arab

Masuknya pengaruh Islam membawa sistem keuangan baru. Kerajaan Samudra Pasai menjadi pelopor pengungkapan Dirham emas yang memuat nama sultan dan tulisan Arab, seperti “Malik Az-Zahir”. Di wilayah lain, seperti Jambi dan Aceh, koin juga ditulis dengan kalimat Arab dan tahun Hijriah.

Mata uang Kerajaan Samudra Pasai
Mata uang Kerajaan Samudra Pasai

Koin-koin ini menunjukkan bahwa perekonomian Kerajaan Islam saat itu telah terhubung dengan perdagangan internasional, terutama dengan Timur Tengah dan India.

Masa Penjajahan Belanda: Gulden dan De Javasche Bank

Ketika Belanda menguasai Nusantara, sistem keuangan mengalami perubahan besar. Tahun 1828, pemerintah kolonial mendirikan De Javasche Bank (DJB) — cikal bakal Bank Indonesia.

Photo
Photo
Mereka menerbitkan uang Sen dan Gulden, khusus untuk wilayah Hindia Belanda. Uang ini menegaskan dominasi ekonomi kolonial dan menjadi simbol kekuasaan Eropa di tanah jajahan.

Baca Juga: Gubernur Dedi Mulyadi Tegas Soal Polemik Sumber Air Aqua: “Saya Tidak Bisa Diintervensi”

Pendudukan Jepang: Uang Baru, Kekuasaan Baru

Tahun 1942, Jepang menggantikan Belanda. Semua uang terbitan DJB ditarik, lalu diganti dengan uang seperti “De Japansche Regeering”.

Photo
Photo
Menjelang akhir pendudukan, Jepang berencana mengeluarkan uang baru dengan tulisan bahasa Indonesia — upaya politis untuk menarik simpati rakyat. Meski singkat, masa ini meninggalkan jejak penting dalam sistem moneter Indonesia modern.

Masa Kemerdekaan: ORI, Simbol Ekonomi Merdeka

Pasca proklamasi 1945, Indonesia menghadapi kekacauan moneter. Empat jenis mata uang yang beredar sekaligus: terbitan Jepang, Belanda, dan versi daerah.

Puncaknya, pada tanggal 30 Oktober 1946, pemerintah menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI) sebagai alat pembayaran resmi. ORI menjadi simbol pelestarian bangsa muda ini — menggantikan uang penjajah dan menegaskan kemerdekaan ekonomi.

Namun, ORI segera menghadapi inflasi parah akibat perang dan sabotase ekonomi Belanda.

Baca Juga: BRIN Sebut IKN Terancam Krisis Air Bersih, Kepala Otorita Basuki Angkat Suara hingga Singgung Kondisi di Jakarta

Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA): Ketahanan Ekonomi Lokal

Untuk menanggulangi kekacauan, sejumlah daerah menerbitkan mata uang lokal atau ORIDA.

Sumatera memiliki ORIPS, Banten mengeluarkan ORIDAB, dan Yogyakarta menerbitkan tanda penerimaan uang yang ditandatangani Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Langkah ini menjaga roda ekonomi tetap berputar meski situasi nasional genting.

Masa Republik Indonesia Serikat (RIS): Satu Negara, Satu Uang

Pasca Konferensi Meja Bundar (1949), lahirlah Uang RIS yang menampilkan gambar Presiden Soekarno. Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara juga mengeluarkan kebijakan legendaris, “Gunting Sjafruddin”, untuk menekan inflasi dan menertibkan sirkulasi uang kolonial.

Photo
Photo
Kebijakan ini menandai awal konsolidasi moneter Indonesia.

Lahirnya Bank Indonesia dan Rupiah Modern

Tanggal 1 Juli 1953 menjadi tonggak penting: Bank Indonesia resmi berdiri menggantikan De Javasche Bank. Sejak saat itu, BI menjadi satu-satunya lembaga yang berhak mengeluarkan uang.

Dari dekade ke dekade, rupiah terus mengalami perubahan desain, bahan, dan fitur keamanan.

Baca Juga: 92 Warga Cikande Terdampak Radiasi Cs-137 Direlokasi ke Hunian Sementara

Terbaru, pada tahun 2022, Bank Indonesia meluncurkan Rupiah Kertas Tahun Emisi 2022, menegaskan identitas nasional melalui wajah pahlawan dan motif khas Nusantara.

Dari ORI ke Rupiah, dari Simbol ke Jati Diri

Mata uang bukan hanya alat tukar, tetapi cermin perjalanan bangsa. Dari logam kerajaan hingga uang digital hari ini, setiap lembar rupiah menyimpan kisah panjang perjuangan — tentang belas kasihan, kepercayaan, dan kebanggaan sebagai bangsa merdeka.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Hari uang indonesia #kementerian keuangan (kemenkeu) #mata uang indonesia