SAMARINDA—Wacana Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud yang menyinggung soal pendangkalan Sungai Mahakam sebagai salah satu penyebab banjir di Samarinda. Namun, hal itu mendapat tanggapan Wali Kota Samarinda, Andi Harun.
Menurut AH, selama dua dekade terakhir, Sungai Mahakam memang tidak pernah dikeruk. Namun, dia menegaskan, upaya normalisasi sungai itu perlu koordinasi lintas pemerintah, termasuk dengan Pemprov Kaltim.
“Tidak ada (koordinasi langsung), saya juga hanya melihat. Tapi saya berterima kasih kepada Pak Gubernur, pihak yang ingin berjuang ikut terlibat dalam pengendalian banjir di Samarinda,” ujarnya, Selasa (28/10).
Dia menjelaskan, koordinasi selama ini berjalan di level teknis, antara dinas pekerjaan umum kota dan provinsi. Dirinya mengaku belum mengetahui secara detail substansi pembahasan Gubernur Kaltim di Kementerian Perhubungan, namun menilai niat tersebut positif. "Saya melihat niat beliau baik, dan kita harus berterima kasih,” katanya.
Pada bagian lain, Andi Harun menyebut, hampir seluruh rencana pengendalian banjir di Samarinda sudah memiliki Detail Engineering Design (DED). Menurutnya, kendala utama justru ada di pendanaan dan kewenangan pelaksana.
"Kalau beliau (Gubernur) berkoordinasi dengan saya, data lengkapnya pasti dikasih. Hampir semua kegiatan pengendalian banjir di Samarinda sudah ada DED-nya,” tuturnya.
Sejumlah rencana itu, lanjut dia, seperti pembangunan pintu air di Jembatan satu, sheet pile di sepanjang Sungai Karang Mumus, pembangunan rumah pompa, kolam retensi, serta optimalisasi Waduk Lempake yang kini mengalami sedimentasi hingga 0,8 juta meter kubik.
Sebagian besar proyek itu, kata Andi, menjadi kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS) di bawah Kementerian PUPR. "Kami juga sudah punya DED revitalisasi drainase di dalam kota. Kalau dibutuhkan, semua datanya bisa kita berikan ke pemerintah provinsi,” katanya.
Untuk mengatasi air pasang dari Sungai Mahakam yang sering menyebabkan genangan di kawasan pelabuhan dan Jalan Slamet Riyadi, pemerintah telah merancang sistem pintu air otomatis. “Kalau level air naik, pintu ditutup. Kalau normal, dibuka lagi, supaya air dari darat bisa mengalir ke Mahakam,” jelasnya. (*)
Editor : Dwi Restu A