Instruksi itu ia sampaikan dalam pertemuan bersama jajaran komando militer pada Kamis, 30 Oktober 2025.
Menurut laporan National News Agency (NNA), militer Israel melancarkan serangan intensif ke sejumlah desa di perbatasan dan bahkan memasuki wilayah Lebanon hingga sejauh satu kilometer.
Tank dan kendaraan lapis baja dilaporkan bergerak ke arah Blida, di mana pasukan Israel sempat menyerbu kantor pemerintah setempat saat seorang pekerja sipil sedang tertidur.
Aoun menyebut tindakan Israel sebagai bentuk pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan negaranya. Ia meminta militer bertindak tegas untuk mempertahankan wilayah Lebanon selatan dan melindungi penduduk sipil.
“Tugas utama kita adalah menjaga tanah air dari agresi, apa pun risikonya,” ujar Aoun dalam rapat tersebut.
Serangan Israel memicu kecaman luas, termasuk dari Perdana Menteri Nawaf Salam. Ia menilai tindakan militer Tel Aviv telah melampaui batas dan mengancam stabilitas kawasan.
“Ini bukan lagi serangan terbatas, tapi upaya penghancuran terhadap lembaga negara Lebanon,” kata Salam, dikutip dari Al Jazeera.
Ketegangan di perbatasan selatan meningkat sejak beberapa bulan terakhir, meski kedua pihak sempat menyepakati gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah tahun lalu.
Namun, Israel disebut berulang kali melanggar kesepakatan itu dengan melakukan serangan udara ke desa-desa perbatasan, bahkan sempat menggempur pos pasukan penjaga perdamaian PBB (UNIFIL).
Juru bicara Komisi HAM PBB, Jeremy Laurence, menyebut serangan Israel sejak pelanggaran gencatan telah menewaskan sedikitnya 111 orang.
PBB menyerukan agar semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional demi mencegah eskalasi lebih jauh di kawasan Timur Tengah.
Editor : Uways Alqadrie