Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

“Dirundung” di Rumah Teman, Remaja Meninggal Dunia Setelah Alami Penganiayaan “Pesilat” Cilik, Begini Kronologinya

Dwi Restu Amrullah • Kamis, 6 November 2025 | 16:36 WIB
DUKA: Sartia (kiri) menceritakan kisah kepergian anaknya yang ternyata jadi korban penganiayaan.
DUKA: Sartia (kiri) menceritakan kisah kepergian anaknya yang ternyata jadi korban penganiayaan.

 

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA-Perundungan hingga korban meninggal dunia terjadi di lingkungan remaja. Pelakunya justru masih mengenyam pendidikan sekolah dasar (SD), dan diketahui sebagai “pesilat” cilik.

Nasib tragis menimpa RA, remaja berusia 14 tahun. Dia dianiaya seorang anak kelas VI sekolah dasar (SD), Minggu, 26 Oktober 2025. RA meninggal dunia Senin (27/10) dini hari.

Sartia, ibu kandung korban yang ditemui awak media, Kamis (6/11) bercerita, Minggu malam, dia izin pamit ke dirinya.

“Anak saya bilang mau main ke rumah teman, jaraknya enggak jauh, sekitar 50 meter dari rumah kami, sekitar pukul 20.30 Wita,” ungkapnya. Namun, 30 menit berselang, RA pulang. Dia mengeluhkan sakit di kepala. “ Langsung masuk kamar, dan menangis katanya kepalanya sakit. Itu hanya saya kasih minyak angin. Saya bilang jangan terlalu nyaring nangis, enggak enak sama tetangga,” sambungnya.

“Saya pikir sakit kepala biasa. Saya tanya mau makan dan minum, tapi lewat tengah malam dipanggil-panggil namanya enggak ada respons. Di situ saya panik. Sekitar pukul 00.30 Wita, nafasnya sudah seperti orang ngorok, pukul 01.00 Wita itu menghembuskan nafas terakhirnya,” imbuhnya.

Menurutnya, ada hal yang janggal. “Biasanya keluar main kalau pulang enggak masalah. Jadi begitu meninggal, saya bawa jenazah ke rumah orang tua saya. Tapi pukul 02.00 Wita itu mulutnya keluar busa dan darah. “Saat dimandikan saya ditanya, anak kamu dari mana, kok ada lebam. Saya cek apakah jatuh dari motor, tapi motor enggak ada lecet,” bebernya.

“Bola mata kirinya juga pas dimandikan itu agak keluar. Pas dikafani juga mulut masih berbusa. Yang kafani kan kakek saya, tapi dilihat wajahnya menguning. Itu belum ada curiga,” jelasnya.

Di malam ketiga pasca-kepergian mendiang RA, penyebab kematian tersebut perlahan terkuak. Tante dari Sartia mengecek handphone korban. Saat itu pula dia melihat status WhatsApp rekan korban. “Tulisannya, saya terima kepergianmu, tapi saya tidak iklhas dengan cara kematianmu. Di situ saya diajak bicara tante saya,” ceritanya.

1 November, keluarga besar Sartia bertemu. “Katanya anak saya meninggal itu karena dianiaya,” tambahnya. Di situ dirapatkan. Ada orang tua korban, pelaku, dan keluarga pelaku.

Saat pertemuan itu, lanjut Sartia, orang tua pelaku bilang, “Siapa yang tahu anakmu di luar sana kayak apa. Saya langsung marah, dan bilang, Om, jaga mulut ya. Anak saya di sini dikenal baik sama warga,” sebutnya. Anaknya dikenal murah senyum. Ketika disapa orang, selalu jawab dan tersenyum, tidak banyak bicara.

Dari pertemuan itu terkuak bahwa kejadiannya penganiayaan di rumah AJ. Awalnya terduga pelaku bilang ke korban, berani enggak lawan saya. Korban menjawab, ya berani, sama-sama makan nasi. Mungkin karena jengkel, akhirnya mereka berkelahi.

“Kata saksi, anak saya dipukul di kepala sampai bunyi nyaring, lalu ditendang tiga kali di perut. Setelah itu anak saya pulang, sempat baring dan menangis kesakitan,” imbuhnya.

Saksi bilang dikira sekadar bercanda. Ternyata tidak ada yang melerai waktu itu. Kasusnya baru dilaporkan ke Polresta Samarinda Senin (3/11). Kamis (6/11), Sartia diminta pemeriksaan tambahan oleh penyidik.

“Waktu itu tidak ada visum karena kami tidak curiga kalau anak saya dianiaya. Jadi langsung dimakamkan,” terangnya. Kasusnya baru terungkap setelah tante melihat story tersebut, kemudian saksi yang melihat bercerita ihwal kejadian itu. Sartia menegaskan, tubuh korban memang sedikit lebih kecil dibandingkan terduga pelaku yang masih anak SD. Terduga pelaku disebut ibu korban sebagai pesilat. (*)

Editor : Dwi Restu A
#meninggal #remaja #samarinda #perundungan