Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Tak Pernah Ada Kata Pensiun Jadi Ayah

Nasya Rahaya • Sabtu, 8 November 2025 | 18:28 WIB
MENIKMATI KEHIDUPAN: Sulaiman selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sebagai kepala keluarga meski anak-anaknya sudah bisa mandiri.
MENIKMATI KEHIDUPAN: Sulaiman selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sebagai kepala keluarga meski anak-anaknya sudah bisa mandiri.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA - Tugas ayah dalam sebuah keluarga sangatlah penting. Tak hanya sebagai pencari nafkah, pelindung dan pemimpin, dia juga dituntut untuk mendidik, menciptakan suasana harmonis dan menjadi motivasi bagi anggota keluarga lainnya. Tugas ini tidak pernah lekang oleh waktu, hingga ajal menjemput.

Memasuki usia senja, Sulaiman menikmati hari-hari seperti biasanya. Pagi hingga sore ia masih bekerja. Selepas itu meluangkan waktu untuk ibadah, lalu malamnya diisi dengan mengaji. Lelaki kelahiran 1961 itu kini memang telah memasuki masa purna tugas, namun baginya menjadi kepala keluarga bukanlah peran yang bisa berhenti begitu saja.

“Selama masih mampu dan dibutuhkan, saya akan terus berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga,” ungkapnya. Tak ada kata pensiun untuk urusan menafkahi keluarga. Walau kini kelima anaknya telah dewasa, bahkan si bungsu sudah bekerja, Sulaiman tetap merasa tanggung jawabnya belum benar-benar usai.

Bagi Suriani, suaminya memang sosok pekerja keras dan bertanggung jawab dengan keluarga. Semua anak terpenuhi kebutuhannya hingga dewasa. Mengenal sang suami selama lebih dari dua dekade adalah perjalanan panjang yang dipenuhi pengertian.

“Kalau mencari pasangan yang benar-benar sama dengan yang kita inginkan, itu sulit. Jadi harus saling mengisi kekurangan dan kelebihan masing-masing,” sebutnya.

Ia mengenang, pada awal pernikahan masih banyak perbedaan kecil yang kerap menimbulkan adu argumen. Namun seiring waktu, terutama setelah usia melewati tahun kesepuluh pernikahan dan memasuki usia kepala empat segalanya lebih mudah dijalani. “Sekarang seperti bersaudara saja. Enggak ada tuntutan lagi,” katanya.

Sulaiman dikenal sebagai sosok yang tidak banyak bicara, tapi kuat dalam teladan. Suriani menyebut, ibadah sang suami adalah hal paling menonjol. “Itu yang bisa dicontoh. Rajin beribadah dan tanggung jawabnya besar,” tuturnya.

Dalam keseharian, Sulaiman bukan tipe suami yang mengekang. Ia membiarkan istrinya tetap aktif, termasuk berwirausaha kecil, ikut arisan, maupun liburan ke luar kota. “Salah satu yang membuat kami bisa bertahan sampai sekarang karena dia enggak pernah mengekang. Enggak pernah bertengkar besar juga. Kalau pun sempat diam-diaman, paling sehari saja,” ujar Suriani.

Mustika Sari, anak kedua mengakui bahwa sosok ayahnya adalah figur disiplin dan penuh kasih, meski tak selalu menunjukkan dengan kata-kata. “Bapak sayang sama anak-anaknya, enggak pernah mukul. Kalau marah paling cuma diam atau merengut,” ujarnya.

Menurut Mustika, ayahnya adalah contoh generasi lama yang kuat dalam prinsip, termasuk soal peran di rumah. “Kekurangannya, Bapak cuma fokus kerja,” katanya.

Meski begitu, Mustika tetap meneladani hal paling penting dari ayahnya yakni kedisiplinan dalam ibadah.

“Waktu semua anak masih di sekolah dan masih tinggal satu atap, sesibuk apapun bapak dan ibu selalu menyempatkan sholat magrib jamaah di rumah, tiap malam Jumat Yasinan bareng. Walaupun sudah berkeluarga dan tidak tinggal dengan bapak ibu, masih kangen kehangatan itu,” tuturnya.

Kini, setelah berkeluarga, Mustika menyadari betapa besar peran seorang ayah. “Rajinnya bapak dalam beribadah ini aku coba terapkan ke keluarga kecilku sekarang, walau belum sebaik beliau,” katanya.

Baginya, sang ayah mungkin bukan tipe orang tua yang pandai bercerita atau tempat curhat. Tapi nilai-nilai yang ia tanamkan tentang tanggung jawab, agama, dan kerja keras menjadi warisan yang tidak lekang dimakan waktu.

“Bapak itu berhasil mendidik kami,” kata Mustika. “Kami enggak pernah macam-macam. Dan sekarang, setelah punya anak sendiri, aku baru benar-benar paham seperti apa beratnya jadi orang tua,” tutupnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#hari ayah #pensiun #kepala keluarga #ayah