Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kaltim Kebut Swasembada Pangan: Optimalisasi Lahan dan Cetak Sawah Baru Digenjot hingga 2026

Bayu Rolles • Jumat, 21 November 2025 | 05:03 WIB

NAIK: Kenaikan NTP didorong oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian sebesar 0,46 persen.
NAIK: Kenaikan NTP didorong oleh kenaikan indeks harga hasil produksi pertanian sebesar 0,46 persen.

KALTIMPOST.ID, Upaya agar Kaltim swasembada pangan terus dikebut Pemprov Kaltim. Mengoptimalisasi lahan (oplah) serta mencetak sawah baru jadi dua cara menuju target itu. keduanya diproyeksi berjalan beriringan dari tahun ini hingga tahun depan.

Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kaltim, Siti Farisyah Yana, mengatakan sejumlah program strategis untuk meningkatkan indeks pertanaman dan meluaskan area produksi padi sudah dirancang.

Oplah, kata dia, jadi kunci dalam meningkatkan produktivitas pertanian Kaltim. karena upaya yang ditempuh mencakup pembenahan saluran tersier, menguatkan galengan sawah, hingga irigasi agar air terus tersedia sepanjang tahun.

“Saat ini kemampuan lahan Kaltim masih di bawah dua kali tanam. Lewat Oplah, petani bisa menanam dua kali per tahunnya,” katanya, Kamis, 20 November 2025.

Baca Juga: Menuju Swasembada 2027, Kaltim Benahi Tata Kelola dan Kolaborasi Pangan

Tahun lalu, program itu sudah menyasar Penajam Paser Utara. Sementara tahun ini, peta kerja oplah meluas ke empat kabupaten/kota. Dari Samarinda, Paser, Kutai Timur, hingga Kutai Kartanegara.

Gubernur Rudy Mas`ud dan Wakilnya, Seno Aji terus mendorong percepatan realisasi swasembada di Kaltim lewat memperkuat cadangan pangan, serta menambah sawah-sawah produktif. “Semoga Kementerian Pertanian bisa mengakomodasi usulan yang sudah kita sampaikan ke pusat,” katanya.

Sejalan dengan oplah, DPTPH sudah menyiapkan cetak sawah baru seluas 2.400 hektare tahun ini dengan pola yang sedikit berbeda. Kini, lanjut dia, sebelum cetak sawah baru dijalankan harus berpedoman hasil Survei Investigasi dan Desain (SID).

“Agar tak tumpang tindih dengan pemanfaatan lahan lainnya. Minimal ada delapan kriteria untuk bisa jadi cetak sawah baru. Salah satunya tak boleh di kawasan HGU atau hutan,” terangnya.

Baca Juga: Strategi Kaltim Wujudkan Swasembada Pangan Hewani: Ekonomi Kerakyatan dan Investor

Soal cadangan lahan yang bisa dimaksimalkan jadi persawahan, Kaltim terbilang punya sedikit pilihan karena sudah ada pemanfaatan lain dalam peta ruang pembangunan. Karena itu pula, identifikasi memakan waktu lebih lama dan kehati-hatian.

Yana, begitu dia disapa, mengambil contoh cetak sawah baru di Mahakam Ulu seluas 200 hektare yang berakhir ditunda tahun ini. Pemerintah kehabisan waktu, belum mobilisiasi alat berat, dan anggaran yang terlambat cair.

Tahun depan, targetnya lebih dari tahun ini. Seluas 3 ribu hektare lahan sawah baru. “Tahun berjalan sisa sebulan. Anggaran baru turun, jadi programnya ditarik ke tahun depan. Dana yang ada dipakai untuk SID dulu,” katanya menutup. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#kaltim #swasembada pangan #optimalisasi lahan (oplah)