Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

LAPORAN KHUSUS: Sawit Jadi Harapan Baru Ekonomi Kaltim, Tapi Tantangan Hilirisasi dan Harga Global Masih Menghambat

Muhammad Ridhuan • Minggu, 23 November 2025 | 06:05 WIB
Ilustrasi sawit
Ilustrasi sawit

KALTIMPOST.ID-Kelapa sawit selalu hadir dalam percakapan panjang soal masa depan ekonomi Kaltim.

Di tengah dominasi batu bara yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung pendapatan daerah, sawit pelan-pelan memantapkan posisinya sebagai kandidat alternatif.

Luas lahan, iklim tropis, dan struktur agraris di sejumlah wilayah mendukung ekspansinya. Namun jalan menuju substitusi ekonomi tidak selalu lurus.

Dalam setahun terakhir, ekonomi Kaltim kembali diuji. Produksi dan ekspor batu bara masih besar, tetapi nilainya tergerus anjloknya harga global dan menurunnya permintaan luar negeri.

Situasi itu semakin menguatkan dorongan agar sawit tidak hanya menjadi penunjang, melainkan penyangga masa depan ekonomi.

Data Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim menunjukkan, Kaltim memiliki area perkebunan sawit berstatus hak guna usaha (HGU) seluas 1,2 juta hektare, dengan izin usaha perkebunan mencapai 2,2 juta hektare.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat total areal sawit Kaltim pada 2024 mencapai 1,47 juta hektare.

Dari luasan tersebut, produksi tandan buah segar (TBS) tercatat mencapai 18,67 juta ton. Angka yang besar. Namun realitas di lapangan tidak sesederhana itu.

Produksi yang melimpah tidak diikuti harga yang menggembirakan. Periode 1–15 November 2025 misalnya, menjadi gambaran betapa rentannya komoditas itu terhadap dinamika global.

“Rata-rata tertimbang CPO (crude palm oil) berada di angka Rp 14.055,93 per kilogram. Sementara kernel di Rp 12.454,31 per kilogram dengan indeks K 89,14 persen,” ujar Plt Kepala Disbun Kaltim Ahmad Muzakkir, Sabtu (22/11).

Padahal dua pekan sebelumnya, periode 16–31 Oktober 2025, harga CPO masih di kisaran Rp 14.313,01 per kilogram.

Sedangkan kernel berada di Rp 12.942,94 per kilogram. Penurunan beruntun itu memperlihatkan tekanan yang dirasakan petani, terutama mereka yang tidak memiliki akses pasar yang kuat.

Baca Juga: LAPORAN KHUSUS: Ekonomi Kaltim Diingatkan Tak Ulangi Krisis 2015, Pengamat Minta Pemerintah Waspadai Ketergantungan Batu Bara

Muzakkir merinci harga TBS berdasarkan umur tanaman, mulai Rp 2.901 per kilogram untuk tanaman umur tiga tahun, hingga Rp 3.296 per kilogram untuk tanaman umur sepuluh tahun.

Daftar harga tersebut menjadi rujukan bagi kebun plasma yang bermitra dengan pabrik kelapa sawit.

Ia menegaskan, kemitraan menjadi kunci agar petani terlindungi dari praktik harga yang tidak adil.

“Kerja sama kelompok tani dengan pabrik minyak sawit diharapkan mampu menjaga harga tetap sesuai standar, bukan ditentukan tengkulak. Melalui pola ini, kesejahteraan petani sawit harusnya semakin terjamin,” tegasnya.

Sawit tetap menyimpan harapan besar bagi Kaltim. Namun perjalanan menuju posisinya sebagai sektor ekonomi unggulan masih menghadapi tantangan: harga global yang fluktuatif, akses pasar, dan tata kelola yang harus lebih kuat. Kaltim kini berdiri di titik persimpangan. Antara ketergantungan masa lalu dan peluang baru yang terus tumbuh. (rd)

Editor : Romdani.
#kelapa sawit #Ekonomi Kaltim 2025 #tandan buah segar #Kutai Barat #batu bara #hilirisasi sawit