KALTIMPOST.ID-Penurunan permintaan batu bara global yang diprediksi merosot tajam membuat Pemerintah Provinsi Kaltim memastikan daerah harus mempercepat transisi menuju energi terbarukan, dengan mengandalkan penguatan industri biodiesel dan penyiapan SDM lokal sebagai kunci menghadapi perubahan.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Erwanto, menyampaikan hal itu setelah menyoroti proyeksi penurunan permintaan batu bara global yang diprediksi anjlok hingga 70 persen pada 2045. “Kalau kita sepakat dengan paris agreement, permintaan batu bara pasti turun. Ini tanda kita harus bertransformasi menuju energi terbarukan,” ujarnya, Sabtu (29/11).
Bambang menjelaskan, Kaltim sebenarnya memiliki modal kuat dalam menyongsong fase transisi energi. Salah satunya adalah tumbuhnya industri refinery biodiesel di daerah. Saat ini ada sekitar enam refinery B40 yang beroperasi.
Baca Juga: Pembangunan Fasilitas Outbond BPSDM Bermasalah, DPRD Kaltim Desak Sanksi Tegas
Terbaru, perusahaan asal Korea Selatan, Posco, meresmikan pabrik pengolahan bahan baku biodiesel di Balikpapan. “Refinery Posco ini bisa menghasilkan 500 ribu ton POME per tahun. Ini sangat mendukung target energi terbarukan Kaltim,” katanya.
Meski begitu, dia mengakui ketersediaan bahan baku masih menjadi tantangan besar. Beberapa perusahaan harus mendatangkan pasokan dari luar Kaltim, termasuk Manokwari, akibat terbatasnya kebun sawit di daerah.
Masih menurut Bambang, perkembangan industri biodiesel akan membawa efek berlipat bagi perekonomian daerah. Tak hanya memperkuat bauran energi hijau, aktivitas blending yang dilakukan di Kaltim membuka peluang ekspor lebih besar.
Baca Juga: Proyek Outbond BPSDM Kaltim Bermasalah: Kontraktor Menghilang Usai Temuan BPK Rp 7,5 Miliar
“Kalau blending dilakukan di sini dan ekspornya juga dari sini, otomatis menumbuhkan devisa bagi Kaltim,” ucapnya. Transisi energi diyakini ikut mengubah lanskap tenaga kerja di daerah. Terlebih sektor fosil sudah memasuki fase sunset. Untuk mengantisipasi perubahan itu, Pemprov Kaltim telah menyiapkan 12 sektor prioritas guna menampung kebutuhan tenaga kerja baru.
“Kalau energi fosil nanti ditinggalkan, sudah ada sektor yang menunggu seperti biodiesel, pangan, migas, sampai perikanan seperti udang windu. Semua masuk dalam kerangka transformasi energi,” jelas Bambang. Dia memastikan Dinas ESDM akan berkolaborasi dengan berbagai lembaga guna menyiapkan SDM lokal agar mampu berperan dalam industri energi bersih. “Ini mekanisme pasar, tapi pemerintah tetap harus memastikan SDM kita siap,” tutupnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki