Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Badai PHK Global Diperkirakan Berlanjut Hingga 2030, Didorong oleh AI

Ari Arief • Jumat, 5 Desember 2025 | 14:50 WIB

Ilustrasi PHK
Ilustrasi PHK

KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Tahun 2025 ditandai oleh gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang masif, mulai dari sektor ritel hingga teknologi. Berdasarkan proyeksi dari Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF), tren pengurangan karyawan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga tahun 2026, bahkan meluas sampai 2030.

Pendorong utama PHK ini adalah peningkatan masif dalam penggunaan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI), ditambah dengan ketidakpastian kondisi ekonomi global.

Survei terbaru WEF mencatat bahwa 41 persen perusahaan di seluruh dunia mengindikasikan rencana untuk mengurangi jumlah tenaga kerja secara signifikan hingga tahun 2030. Fenomena ini sejalan dengan semakin banyaknya pekerjaan yang dapat diambil alih atau digantikan oleh sistem robotik dan otomatisasi.

Strategi Perusahaan dan Peran AI Generatif

Baca Juga: Perampingan Historis Amazon, Lebih dari 14.000 Karyawan Terdampak PHK, Insinyur Jadi Target Utama

Dalam laporannya, Future of Jobs Report, WEF memaparkan strategi yang dianut ratusan perusahaan besar untuk menghadapi disrupsi teknologi ini. Dari perusahaan yang disurvei, 77 persen menyatakan akan fokus pada program peningkatan (upskilling) dan pelatihan ulang (reskilling) keterampilan pekerja yang ada dalam periode 2025–2030, tujuannya agar karyawan dapat bekerja lebih efektif bersama AI.

"Perkembangan pesat AI dan energi terbarukan saat ini tengah merombak pasar tenaga kerja, memicu lonjakan permintaan untuk berbagai peran spesialis atau berorientasi teknologi, sekaligus menurunkan kebutuhan akan pekerjaan lain, seperti desainer grafis," ujar WEF.

Managing Director WEF, Saadia Zahidi, secara khusus menyoroti peran AI generatif—teknologi yang mampu menciptakan teks, gambar, dan konten orisinal—dalam mendefinisikan ulang tugas-tugas di berbagai sektor.

Baca Juga: Perkebunan Dominasi Kasus PHK di Kaltim, Pertambangan Juga Ada

Beberapa jenis pekerjaan diperkirakan akan mengalami penurunan permintaan tercepat dalam beberapa tahun ke depan, baik karena AI maupun faktor lain, termasuk petugas layanan pos, sekretaris eksekutif, dan petugas penggajian.

Laporan WEF menunjukkan bahwa masuknya desainer grafis dan sekretaris hukum ke dalam daftar sepuluh pekerjaan yang paling cepat menurun—untuk pertama kalinya dalam sejarah laporan Future of Jobs—mencerminkan peningkatan kemampuan GenAI dalam menyelesaikan tugas-tugas berbasis pengetahuan.

Permintaan Keterampilan AI Meningkat Tajam

Di sisi lain, permintaan terhadap keterampilan terkait AI melonjak. Data menunjukkan hampir 70 persen perusahaan berencana merekrut tenaga kerja baru dengan kemampuan merancang alat dan mengembangkan AI.

Sementara 62 persen lainnya berencana menambah pekerja yang mahir dalam berkolaborasi dan bekerja berdampingan dengan AI, menurut survei yang dilaksanakan tahun lalu.

Baca Juga: Kena PHK Oktober 2025, Apakah Masih Bisa Dapat BSU? Ini Penjelasan dan Cara Ceknya

Meski laporan ini menyiratkan nada optimisme bahwa AI generatif berpotensi lebih besar untuk meningkatkan keterampilan manusia melalui kolaborasi manusia-mesin daripada sekadar menggantikan pekerja—terutama untuk keterampilan yang berpusat pada manusia—realitas di lapangan menunjukkan hal berbeda, namun faktanya, banyak pekerja telah merasakan dampaknya.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Dropbox dan Duolingo, telah secara eksplisit menyebut teknologi AI sebagai alasan utama dilakukannya PHK.(*)

Editor : Hernawati
#global #phk #teknologi #ai