KALTIMPOST.ID, JAKARTA — DPP Partai Gerindra mencopot Mirwan MS dari jabatan Ketua DPC Gerindra Aceh Selatan usai dinilai abai karena tetap berangkat umrah di tengah bencana banjir dan longsor.
Sekjen Gerindra Sugiono menegaskan pencopotan dilakukan setelah mempertimbangkan sikap Mirwan saat daerah yang dipimpinnya berada dalam kondisi darurat.
“Keputusan diambil karena yang bersangkutan tetap melakukan perjalanan umrah bersama keluarga ketika rakyat sedang menghadapi bencana. Itu mencerminkan tanggung jawab kepemimpinan yang lemah,” ujar Sugiono.
Sebelumnya, Mirwan mengajukan izin perjalanan ke luar negeri kepada Gubernur Aceh Muzakir Manaf pada 24 November 2025. Namun sehari kemudian, status darurat banjir dan longsor ditetapkan dan permohonan izin tersebut ditolak.
Meski tanpa izin resmi, Mirwan tetap berangkat umrah pada 2 Desember 2025. Aktivitas tersebut viral di media sosial dan memicu kritik luas.
Gubernur Aceh Muzakir Manaf memastikan tidak pernah memberikan izin. “Surat izinnya tidak saya teken. Urusan sanksi kami serahkan ke pemerintah pusat,” kata Muzakir.
Sementara Pemkab Aceh Selatan melalui Plt Sekda menyebut keberangkatan dilakukan setelah kondisi dianggap stabil, serta percaya penanganan korban telah selesai. Pernyataan itu justru tetap menuai polemik di publik.
Banyak pihak menilai seorang pemimpin seharusnya berada di tengah masyarakat saat masa krisis, bukan meninggalkan daerah. Pemecatan dari partai dinilai sebagai langkah pertanggungjawaban politik sekaligus penegasan etika pejabat publik.
Peristiwa ini kembali menyorot pentingnya akuntabilitas, kepatuhan mekanisme izin, serta empati pejabat saat penanganan bencana.