Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Jelang Pemilihan Rektor Unmul 2026: Peluang Petahana, Kuda Hitam, dan Peta Koalisi Fakultas

Eko Pralistio • Minggu, 7 Desember 2025 | 19:22 WIB

Dari kiri, Prof Bohari, Dr Abdunnur, dan Dr Eng Idris pada Pemilihan Rektor Unmul periode 2022–2026, Agustus 2022 lalu. Abdunnur yang akhirnya terpilih, diunggulkan jelang pemilihan tahun depan.
Dari kiri, Prof Bohari, Dr Abdunnur, dan Dr Eng Idris pada Pemilihan Rektor Unmul periode 2022–2026, Agustus 2022 lalu. Abdunnur yang akhirnya terpilih, diunggulkan jelang pemilihan tahun depan.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA — Tahun 2026 menjadi tahun politik bagi Universitas Mulawarman (Unmul). Masa jabatan Rektor Abdunnur yang akan berakhir tahun depan, otomatis membuka arena kontestasi baru. Walau proses pemilihan belum dimulai, tensi politik kampus mulai terasa.

Pada pemilihan rektor periode 2022–2026, terdapat lima bakal calon yang mengikuti proses seleksi awal, yakni Prof Susilo, Dr Irwan Gani, Dr Idris Mandang, Prof Bohari Yusuf, dan Abdunnur. Dari kelimanya, tiga nama kemudian dinyatakan memenuhi syarat untuk mengikuti pemilihan pada tahap akhir.

Pemilihan berlangsung pada 11 Agustus 2022 dalam rapat senat tertutup. Sebanyak 86 anggota Senat Unmul dan perwakilan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang memiliki 47 suara berpartisipasi. Komposisi suara saat itu adalah 65 persen dari senat dan 35 persen dari kementerian.

Hasil pemungutan suara menunjukkan Abdunnur unggul dengan 62,1 persen suara senat, disusul Prof Bohari Yusuf dengan 24,2 persen, dan Dr Idris Mandang dengan 12,9 persen. Dengan hasil tersebut, Abdunnur ditetapkan sebagai rektor terpilih.

Baca Juga: Ekstasi Diburu hingga Indekos, Satu Petugas Pengamanan Tempat Hiburan di Samarinda Kepergok Buang Barang Haram

Dosen FISIP Unmul, Budiman, menilai peluang Abdunnur untuk kembali mencalonkan diri cukup besar. Menurutnya, ketentuan dua periode jabatan rektor memberi ruang bagi petahana melanjutkan kepemimpinan. ”Beliau baru satu periode. Maka peluang untuk kembali maju dan tetap kuat sangat terbuka,” ujar Budiman, Minggu (7/12).

Modal Abdunnur dikatakan Budiman sudah cukup. Dia menilainya lewat struktur internal kampus yang terbentuk selama masa kepemimpinan Abdunnur kemungkinan akan memberikan keuntungan tersendiri. Kedekatan struktural antara rektor dengan para wakil rektor, dekan, dan anggota senat disebut dapat memengaruhi preferensi pemilih.

Meski begitu, lanjut dia, sejumlah nama dinilai tetap berpeluang menjadi penantang. Sosok-sosok yang pernah ikut berlaga pada pemilihan sebelumnya diperkirakan masih menjadi bagian dari peta persaingan. Beberapa nama tersebut antara lain: Dr Idris Mandang, mantan Dekan FMIPA, Prof Susilo, Dekan FKIP, dan Prof Bohari Yusuf, Wakil Rektor bidang Perencanaan pada 2022.

Selain itu, ada pula figur-figur yang disebut memiliki modal politik internal, seperti Dekan Fakultas Teknik Thamrin, tokoh dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, mantan Dekan Kehutanan Rudianto Amirta, dan mantan Dekan Fakultas Hukum Dr Mahendra. Dua tokoh perempuan, Prof Esty dan Prof Rahmawati, juga masuk dalam jajaran nama yang disebut-sebut.

Budiman.
Budiman.

Budiman menilai Fakultas Kehutanan berpotensi menjadi kuda hitam dalam pemilihan mendatang. Fakultas tersebut dikenal memiliki basis alumni yang besar dan solid, termasuk di tingkat pemerintahan dan legislatif.

“Banyak pejabat daerah adalah alumni kehutanan. Jika jejaring ini bergerak, dampaknya dapat signifikan pada dinamika pemilihan,” ujarnya. Nama mantan Dekan Kehutanan, Rudianto Amirta, menjadi salah satu sosok yang dinilai memiliki peluang untuk menarik dukungan luas. Soliditas alumni serta jejaring politik eksternal disebut dapat menjadi faktor penentu.

Baca Juga: Owner Arisan Online di Samarinda Dilaporkan ke Polisi: Kerugian Capai Rp 350 Juta

Budiman mencontohkan sejumlah figur seperti Bupati PPU Mudiyat Noor, anggota DPRD Kaltim Sarkowi, M. Husni Fahruddin, dan Darlis Pattalongi. Jika jaringan alumni ini bergerak, dukungan eksternal bisa menyusup ke ruang-ruang internal senat.

“Organisasi kampus tak bisa menutup mata. Dukungan eksternal, terutama dari pemerintah daerah dan legislatif, bisa memengaruhi,” ujarnya. Dalam konteks inilah, lanjut dia, nama Rudianto Amirta bisa muncul sebagai kandidat kuda hitam.

Namun, Budiman menggarisbawahi, dalam pemilihan rektor perguruan tinggi negeri, suara kementerian kerap menjadi elemen strategis. Porsi 35 persen yang dimiliki Kemendikbudristek dapat berperan menentukan ketika suara senat terbelah. “Biasanya putaran penentuan ditentukan oleh suara kementerian. Jika perolehan di senat tidak jauh berbeda, suara kementerian bisa mengubah hasil akhir,” pesan Budiman. (*/riz)

Editor : Muhammad Rizki
#Abdunnur #Universitas Mulawarman #pemilihan rektor