KALTIMPOST.ID, Pembangunan lanjutan RS Korpri atau Aji Muhammad Salehuddin II di Jalan Wahid Hasyim, Samarinda terus dikebut Pemprov Kaltim. Lahan sekitar satu hektare yang dimatangkan untuk rumah sakit itu memicu kekhawatiran terpangkasnya daerah resapan air di kawasan yang saban hujan sering banjir itu.
Namun Kepala Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-Pera) Kaltim, A.M Fitra Firnanda, menepis kegelisahan itu. Kata dia, pekerjaan pematangan lahan itu tak akan menyulut naiknya debit air ketika hujan tiba.
Pemerintah menerapkan konsep Zero Delta Q sejak awal pekerjaan. Mekanisme yang membuat air hujan tak langsung turun ke sungai atau drainase di sekitarnya. “Dibuatkan kotak retensi di bawah bangunan, mengikuti kontur tanah. Ada sumur resapan untuk menampung air,” katanya.
Baca Juga: Perluasan RSUD Aji Muhammad Salehuddin II Siap Dikebut, Pemprov Usulkan Anggaran Rp 200 Miliar
Soal legalitas, pekerjaan ini sudah mengantongi UKL-UPL, dokumen yang jadi syarat pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup di sekitar pekerjaan. Dokumen itu juga sudah disetujui Pemkot Samarinda sehingga pekerjaan berjalan sesuai standar pengelolaan lingkungan hidup.
Tahun ini, Dinas Kesehatan (Diskes) Kaltim sedang merampungkan Studi Kelayakan (FS) serta Rancangan Teknik Terinci (DED) yang diperlukan untuk membangun fisik rumah sakit tersebut. Pemprov sudah menyiapkan dana Rp90 miliar untuk mengembangkan infrastruktur RS Korpri agar bisa naik kelas ke tipe C.
Proyek dijadwalkan baru berjalan tahun depan dengan target rampung akhir 2027 mendatang. “Saat ini menunggu FS dan DED dari Diskes. Kalau sudah ada baru pekerjaan fisiknya berjalan,” katanya singkat. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki