Angka itu berasal dari tiga provinsi terdampak paling parah yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak.
Informasi tersebut tercantum dalam Dashboard Penanganan Darurat Banjir dan Longsor BNPB yang diperbarui pada Senin pagi, 8 Desember 2025.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat 5 ribu orang mengalami luka-luka, sebagian besar akibat terjangan banjir bandang dan longsor yang memutus akses jalan desa-desa terpencil.
Petugas juga masih mencari 274 warga yang hilang. Mereka diduga tertimbun longsor atau terseret arus banjir di sejumlah kabupaten. Hingga kini, pencarian terus dilakukan dengan bantuan alat berat serta dukungan relawan dari berbagai daerah.
Dampak nonfisik bencana ini juga luar biasa. Lebih dari 850 ribu penduduk terpaksa mengungsi, menyebar di ribuan titik penampungan sementara. Akses listrik, logistik, dan air bersih masih menjadi tantangan utama di wilayah terdampak.
Kerusakan infrastruktur terlihat di mana-mana. BNPB mencatat 156 ribu rumah rusak, mulai dari kategori ringan hingga hilang tersapu arus. Sebanyak 435 jembatan dan lebih dari 1.200 fasilitas umum — termasuk puskesmas dan rumah ibadah — mengalami kerusakan.
Di sektor pendidikan, 534 sekolah turut terdampak, memaksa proses belajar mengajar dihentikan sementara.
Pemerintah pusat dan daerah kini fokus pada percepatan evakuasi, pemulihan layanan dasar, dan pendataan kerusakan. Presiden sebelumnya menyetujui skema bantuan bagi warga terdampak, termasuk dukungan bagi rumah yang hancur akibat bencana.
Gelombang bencana yang menimpa Aceh, Sumut, dan Sumbar ini disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar dalam satu dekade terakhir, dengan dampak merata dari pesisir hingga kawasan pegunungan.
Editor : Uways Alqadrie