KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Hubungan antara sektor perbankan dan perusahaan yang diduga berkontribusi pada kerusakan lingkungan kembali menjadi sorotan. PT Tusam Hutani Lestari (THL), sebuah perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) yang dikaitkan dengan Presiden Prabowo Subianto, diketahui memiliki hubungan bisnis dengan PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI).
Fakta ini diungkapkan oleh Yeta Purnama, peneliti dari Center of Economic and Law Studies (CELIOS). Merujuk pada Laporan Tahunan BSI 2024 halaman 262, PT THL tercatat sebagai entitas yang memiliki relasi dengan bank tersebut.
Yeta menduga kuat adanya aliran pembiayaan operasional untuk perusahaan yang mengelola sekitar 97.000 hektare lahan di wilayah Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireun, dan Aceh Utara tersebut.
Temuan ini memicu kritik bahwa BSI turut mendanai korporasi yang dianggap tidak ramah lingkungan, bertentangan dengan prinsip keuangan hijau (green financing). Pasalnya, Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) sebelumnya menuding operasional PT THL sebagai salah satu pemicu banjir bandang di Aceh akibat hilangnya tutupan hutan di area pegunungan dan daerah tangkapan air.
Baca Juga: KIKA: Banjir dan Longsor di Sumatera Disebabkan Salah Kelola, Bukan Sekadar Faktor Alam
Kepemilikan PT THL oleh lingkaran Presiden semakin sulit disangkal. Selain riset Jatam saat Pilpres 2024, struktur kepemimpinan perusahaan juga diisi orang-orang dekat Prabowo. Hadi Prasetyo, yang kini menjabat Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), pernah menduduki kursi Direktur Utama PT THL pada 2016-2020, sebelum digantikan oleh Edhy Prabowo.
Hingga kini, manajemen PT THL maupun pihak terkait belum memberikan klarifikasi. Kunjungan ke kantor PT THL di Menara Bidakara, Jakarta Selatan, Senin (8/12/2025) tidak membuahkan hasil meski surat permohonan wawancara telah diserahkan. Hashim Djojohadikusumo dan Hadi Prasetyo pun memilih bungkam saat dimintai konfirmasi.
Bencana banjir yang melanda Sumatra dan menelan banyak korban jiwa membuka kembali perdebatan mengenai penguasaan lahan oleh elite politik. Sorotan tajam kini mengarah pada PT Tusam Hutani Lestari (THL), perusahaan pemegang konsesi hutan pinus seluas hampir 100.000 hektare di Aceh.
Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) menyebut aktivitas perusahaan ini berkontribusi pada rusaknya ekosistem hulu sungai. Berdampingan dengan tambang dan perkebunan sawit lainnya, keberadaan HTI ini dinilai memperlemah kemampuan alam menahan limpasan air hujan.
Baca Juga: Klarifikasi Toba Pulp Lestari, Bantah Jadi Penyebab Banjir Sumatra yang Telan Ratusan Korban
Sejarah mencatat, warga setempat sempat memprotes perusahaan ini karena dianggap merampas ruang hidup dan mengubah hutan adat menjadi industri bubur kertas.
Yang mengejutkan, perusahaan yang diduga milik Presiden Prabowo Subianto ini ternyata mendapat dukungan finansial dari lembaga perbankan pelat merah. Peneliti CELIOS, Yeta Purnama, menemukan indikasi relasi bisnis antara PT THL dan Bank Syariah Indonesia (BSI) dalam laporan keuangan tahun 2024.
Hal ini dinilai ironis di tengah tren global yang mendorong perbankan untuk menjauhi investasi perusak lingkungan.
Indikasi kepemilikan Prabowo atas PT THL diperkuat oleh jejak rekam para petingginya, termasuk Mensesneg Hadi Prasetyo yang pernah menjabat sebagai direktur utama. Sayangnya, upaya konfirmasi mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap kerusakan lingkungan dan struktur kepemilikannya menemui jalan buntu.
Pihak perusahaan belum merespons surat permintaan wawancara, sementara tokoh terkait seperti Hashim Djojohadikusumo menolak berkomentar.(*)
Editor : Thomas Priyandoko