Oleh: Muhammad Aufal Fresky, Esais asal Madura
KALTIMPOST.ID, Entah dapat wangsit dari mana sosok Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS. Di saat daerahnya dilanda bencana ekologis, dia justru memilih pergi umroh.
Sepertinya empatinya memang sudah hampir sirna. Banjir bandang dan longsor yang menyebabkan duka nestapa seakan tidak mampu menghentak alam kesadarannya.
Jika kita perhatikan, gelagat Mirwan angkat tangan bahkan cuci tangan di tengah krisis bencana sudah nampak saat awal-awal bencana.
Sebelum “melancong” ke Arab Saudi, tepatnya pada Kamis (27/11/2025), dia telah menerbitkan surat resmi kepada Pemprov Aceh dan Pemerintah Pusat yang menyatakan ketidaksanggupan Pemkab Aceh Selatan dalam menangani tanggap darurat bencana banjir dan longsor. Lima hari setelah surat tersebut dikirim, Mirwan justru nekad terbang ke Makkah.
Padahal, Gubernur Aceh Muzakkir Manaf (Mualem) tidak mengizinkan. Sontak, keputusan Mirwan tersebut menyita perhatian khalayak ramai.
Bisa-bisanya, dia memilih untuk umroh kala daerahnya sedang membutuhkan kehadirannya dalam menangani bencana.
Mualem pun bereaksi keras atas keputusan Mirwan. Dia menyindir beberapa kepala daerah agar tidak cengeng dan lari dari tanggung jawabnya.
Bahkan, dia meminta kepala daerah yang tidak sanggup untuk memimpin di tengah krisis agar segera mengundurkan diri.
Selaku penulis, saya pun sepunuhnya sepakat dengan pernyataan Mualem. Bagaimana tidak, di saat kita semua sedang bahu-membahu memulihkan keadaan pasca-bencana, Mirwan justru tidak menunjukkan kepekaan, apalagi kepedulian yang tinggi kepada rakyat yang dipimpinnya. Apakah sikap semacam itu adalah cermin seorang pemimpin?
Agaknya kita akan kompak menjawab: sikap Mirwan betul-betul melukai perasaan publik. Sensitivitas sosialnya membaca dan menangani krisis jauh panggang dari api.
Tidak butuh waktu lama, Mirwan menjadi trending topic di media sosial. Netizen berbondong-bondong mengecam ulahnya tersebut.
Saya pun geram bercampur kecewa dengannya. Di saat Aceh Selatan sedang berupaya untuk bangkit, kepala daerahnya malah “menghilangkan diri”.
Lagi pula, apakah keberangkatannya untuk menunaikan ibadah umroh itu tidak bisa dipending dulu demi menakhodai rakyat yang sedang membutuhkan uluran tangan?
Mungkin Mirwan memiliki alasan yang kuat atas keputusannya tersebut; semisal denga mendoakan di depan ka’bah agar Aceh Selatan segera pulih?
Mungkin Mirwan berpikir dengan “melenyapkan diri sejenak” ke Tanah Suci, rakyat bisa semakin kompak bergotong-royong?
Atau bisa jadi Mirwan ingin lebih khusyuk mendekatkan diri kepapda Sang Pencipta di Masjidil Haram ataupun Masjid Nabawi sembari merenungi nasib masyarakat Aceh Selatan?
Pertanyaan demi pertanyaan itu bertubi-tubi datang mengusik alam pikiran saya. Yang jelas, hingga saat ini, saya masih bersikukuh bahwa, Mirwan, adalah contoh nyata pemimpin yang nirempati.
Padahal, pemimpin itu, harusnya hadir di tengah krisis untuk memberikan dukungan moril dan materil.
Membangkitkan optimisme dalam jiwa masyarakat. Bukan sebaliknya, “melempar” tanggung jawab ke Pemprov Aceh dan Pemerintah Pusat.
Mungkin Mirwan lupa atau bisa jadi pura-pura lupa, bahwa pemimpin itu adalah pelayan masyarakat.
Ketika sudah disumpah jabatan, sebagian besar hidup pemimpin, mau tidak mau, suka tidak suka, memang wajib diwakafkan untuk umat. Amanah besar yang ada di pundak pemimpin memang sudah semestinya ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
Termasuk dalam menjaga ketertiban, keamanan, dan keselamatan masyarakat. Pemimpin yang hanya ingin dilayani, tapi tidak mau dilayani, itu sudah menyalahi kodratnya.
Kini, Mirwan sudah terlanjur menjadi buah bibir di dunia nyata dan maya. Kekecewaan dan amarah publik pun sudah tidak bisa dibendung.
Kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinannya perlahan mulai memudar atau bahkan telah hilang sama sekali.
Jabatannya sebagai bupati ternyata tidak sepenuhnya digunakan untuk mendharmabaktikan dirinya kepada masyarakat.
Masyarakat Aceh Selatan dibiarkan berjuang sendiri menghadapi dampak bencana alam.
Tidak hanya itu, kayaknya Mirwan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada Presiden Prabowo dan Gubernur Mualem untuk memperbaiki keadaan agar dia sendiri bisa beribadah dengan tenang, nyaman, dan lancar sembari merayakan ulang tahun sang istri di Tanah Suci.
Mirwan mungkin juga memanjatkan doa di tempat-tempat istijabah agar masyarakat Aceh Selatan memamklumi dan memaafkannya. Apakah sesederhana itu? Mari ktia tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Usut punya usut, faktanya Mirwan kurang atau bahkan tidak mampu memimpin Aceh Selatan.
Sebagai pemimpin, dia tidak bisa menjadi navigator, apalagi menjadi motivator, apalagi menjadi inspirator bagi masyarakatnya.
Mana ada pemimpin yang lari dari masalah. Bukannya menjadi problem solver, yang ada justru “bersembunyi”.
Kepemimpinan macam apa itu. Mana ada pemimpin yang tega-teganya menelantarkan rakyatnya di tengah bencana.
Jika memang anggaran daerah terbatas, bukankah bisa bersinergi dan berkolaborasi dengan Pemerintah Pusat?
Jika memang sumber daya manusia (SDM) untuk mengatasi dampak bencana terbatas, bukankah Mirwan bisa menghubungi pejabat-pejabat di level pusat? Lagian, saya kira Pemerintah Pusat juga tidak tinggal diam.
Hanya saja. Mirwan ini, bukan sebatas tidak tahu diri, tapi sudah hampir putus urat malunya atau bisa disebut bermuka tebal.
Dengan tenangnya dia mengamalkan jurus langkah kaki seribu untuk menghindari tanggung jawabnya.
Kendatipun demikian, saya pribadi masih percaya dan yakin betul, Makkah dan Madinah adalah tempat penuh barokah.
Setidaknya, Mirwan bisa kecipratan barokah lalu bergegas untuk bertaubat dan tidak mengulangi keselahannya lagi.
Meminta maaf ke publik dengan penuh kesadaran dan kesungguhan, serta berjanji tidak mengulanginya lagi.
Tapi, sekali lagi, dia juga harus berani mempertanggungjawabkan perbuatannya itu di tengah mayarakat.
Karena masyarakat Aceh Selatan sudah terlanjur kecewa dan menunggu iktikad baiknya.
Percayalah, kita semua sedang dan akan selalu membutuhkan sosok pemimpin yang memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi. Dan hal itu belum terlihat dari sikap dan kepribadian Mirwan.
*) Esais asal Madura.
Editor : Dwi Puspitarini