UJOH BILANG – Upaya penyelamatan badak Kalimantan memasuki babak paling genting dalam sejarah konservasi satwa liar Indonesia. Hanya dua individu betina yang diketahui masih hidup di alam: satu di Suaka Margasatwa Kelian, Kutai Barat, dan satu lagi berada di hutan Mahakam Ulu (Mahulu).
Kondisi ini membuat pemerintah dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Timur mengambil langkah berani—bahkan ekstrem—demi mencegah punahnya mamalia besar paling langka di Kalimantan.
Dalam pertemuan Rapat Koordinasi Penyelamatan Badak yang digelar di Balkon Kantor Bupati Mahulu, Kamis (11/12), Kepala BKSDA Kaltim Matheas Ari Wibawanto menegaskan bahwa penyelamatan badak Kalimantan tidak bisa lagi menunggu waktu. “Dua individu ini semuanya betina. Artinya tidak mungkin ada regenerasi alami. Maka perlu intervensi teknis dalam bentuk ART atau pengembangbiakan berbantu,” ujarnya.
Badak dari Mahulu yang dikenal dengan nama Pari disebut berada dalam kondisi rawan. Habitatnya mulai terganggu oleh aktivitas para pencari gaharu yang masuk dari sisi Kalimantan Tengah. Mereka hanya membawa beras dan mencari lauk dengan cara menjerat satwa liar.
Baca Juga: Ketua DPRD Mahulu Soroti Keterbatasan BK, Minta Penguatan Pengawasan Etik Se-Kaltim
“Mereka mungkin tidak berburu badak. Tapi jerat babi hutan bisa mengenai badak Pari. Ini sangat riskan,” kata Ari. Ia mengungkap, patroli telah ditingkatkan di area habitat seluas 50 ribu hektare, terutama di jalur perbatasan Kaltim–Kalteng, yang kini menjadi titik masuk para perambah.
Dengan kondisi tersebut, BKSDA menilai satu-satunya langkah realistis adalah translokasi badak Pari dari Mahulu ke Kelian, tempat badak Pahu sudah lebih dulu dirawat. “Upaya ini urgent. Jika tidak dilakukan, kita kehilangan waktu. Dan setelah itu kita akan kehilangan spesies,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Mahulu, Suhuk, yang hadir dalam pertemuan itu, menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah. Ia bahkan mengusulkan agar badak tersebut tidak hanya dinamai Pari, tetapi secara resmi disebut Pari Mahulu.
Usulan tersebut langsung diterima BKSDA. “Kami akan menggunakan nama itu secara resmi: Pari Mahulu. Dan saat publikasi, kami akan sampaikan bahwa ini adalah badak dari Mahakam Ulu,” kata Ari.
Baca Juga: Ketua DPRD Mahulu Tekankan Penguatan BK Se-Kaltim untuk Jaga Integritas dan Citra Legislatif
Namun Suhuk menekankan satu hal: keinginan masyarakat Mahulu agar badak tersebut dikembalikan setelah proses pengembangbiakan selesai. Ia mengakui muncul penolakan dari sebagian warga Kampung Danum Paroi dan Nyari Bungan, terutama terkait kekhawatiran badak akan dibawa pergi selamanya.
“Intinya kami minta dikembalikan. Mau ke habitat awal atau habitat baru nanti dibahas. Yang penting kembali ke Mahulu. Ini ikon kita,” tegas Suhuk. Ia menambahkan, pemerintah daerah juga siap menyiapkan lokasi yang lebih aman dan terpantau sebagai habitat baru apabila itu diperlukan. “Kalau bisa dekat kota supaya mudah pemantauan. Jangan sampai setelah dikembalikan lalu tidak kita urus," bebernya.
Suhuk menyebut keberadaan badak Kalimantan menjadi kebanggaan besar bagi daerah. “Jangan sampai keberadaan badak hanya jadi cerita. Anak cucu kita harus bisa melihat langsung, bukan hanya mendengar dongeng,” ucapnya. Ia juga menyamakan kondisi badak dengan pesut Mahakam yang populasinya terus menurun. “Jangan sampai badak mengikuti pesut. Jangan sampai punah," tegasnya.
Mengapa Harus Bayi Tabung?
BKSDA menjelaskan panjang lebar alasan teknis di balik metode ART (Assisted Reproductive Technology) yang menjadi satu-satunya opsi. Badak Kalimantan jauh lebih mungil dibanding badak Sumatera, sehingga perkawinan alami berisiko tinggi secara fisik. Inseminasi buatan juga dianggap tidak ideal karena besar kemungkinan anak akan cenderung mengikuti karakter genetik jantan.
“Satu-satunya yang paling masuk akal adalah bayi tabung. Sel telur badak Kalimantan diambil, dibuahi sperma badak Sumatera di luar kandungan, lalu embrio ditanam di rahim badak Sumatera. Hasilnya tetap badak Kalimantan,” jelas Ari.
Upaya bayi tabung sebenarnya sudah dilakukan tiga kali terhadap badak Pahu, namun belum berhasil. Dengan kehadiran Pari Mahulu, peluang itu kembali terbuka, karena sumber genetik baru sudah tersedia.
“Pari harus kita selamatkan supaya keberagaman genetik tidak hilang. Kalau hanya Pahu yang dipakai, risiko inbreeding tinggi. Dengan dua garis genetik—Pahu dan Pari—peluang berhasil lebih besar,” jelasnya.
Dengan hanya dua individu tersisa di seluruh dunia, keduanya betina, dan keduanya berada dalam ancaman nyata, Mahulu dan BKSDA sepakat bahwa penyelamatan badak Kalimantan harus menjadi agenda bersama.
“Kalau ini berhasil, anaknya Pari Mahulu—meskipun sperma dari Sumatera—akan kita tandai dan kembalikan ke Mahulu. Itu komitmen kami,” tutup Ari.
Upaya konservasi terbesar dalam sejarah Kalimantan ini kini memasuki tahap paling menentukan. Semua pihak sepakat: jika langkah ini gagal, maka badak Kalimantan bukan hanya terancam punah—tetapi hilang selamanya dari muka bumi. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki