Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Sebelum Ada MBG, Uang Jajan Siswa Selalu Habis untuk Sekali Makan, Kini Ada Sisa dan Ditabung

Eko Pralistio • Sabtu, 13 Desember 2025 | 14:08 WIB
Mobil SPPG yang menampung ribuan makanan untuk dibagikan ke siswa SMA 2 Samarinda. (DOK/SMA 2).
Mobil SPPG yang menampung ribuan makanan untuk dibagikan ke siswa SMA 2 Samarinda. (DOK/SMA 2).

KALTIMPOST.ID-Ketika program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai diterapkan di sejumlah sekolah di Samarinda mengalami perubahan, tidak hanya hanya di kantin atau ruang makan sekolah.

Muncul cerita-cerita kecil dari rumah para siswa. Mulai dari pengeluaran harian yang menyusut, kebiasaan makan yang berubah, hingga rasa aman karena menu disusun oleh tenaga ahli.

Rinda Ekowati, orang tua dari Cindy Aulia Tri Novanda, siswi SMA Negeri 2 Samarinda. Dia mengaku sangat merasakan perubahan pada kebiasaan putrinya. Sebelum ada MBG, Cindy hampir selalu berangkat tanpa bekal.

Si buah hati dibekali uang jajan harian Rp 15 ribu selalu habis. Itu hanya bisa untuk membeli minuman dan camilan ringan.

“Kalau ditambah jajan lain bisa sampai Rp 20 ribu. Sekarang bisa ditabung untuk keperluan pribadinya,” ujarnya, Selasa (2/12).

Bagi Rinda, kehadiran MBG bukan sekadar menyediakan makanan gratis. Ada aspek yang membuatnya merasa lebih tenang, pengawasan ahli gizi.

Rinda menyebut, program ini memastikan menu yang diberikan sesuai kebutuhan anak usia sekolah.

“Jadi kita tidak khawatir. Anak-anak biasanya susah makan sayur, tapi sekarang malah suka. Dari situ kelihatan perubahannya,” katanya menegaskan.

Efek lain muncul pada manajemen keuangan rumah tangga. Uang saku yang sebelumnya habis untuk kebutuhan makan di sekolah kini bisa disisihkan.

“Kalau tidak ada MBG, otomatis tidak bisa nabung. Sekarang bisa disisihkan. Sangat membantu, dan Cindy bisa membeli keperluan sekolahnya atau bersiap untuk kuliah nanti," tambahnya.

Di tengah berbagai diskusi mengenai keberlanjutan program ini, Rinda termasuk yang berharap MBG tetap berjalan. Dia menilai pemantauan gizi yang ketat dan penyajian yang teratur memberikan dampak langsung yang tidak bisa dianggap kecil. “Menurut saya, sudah sangat lengkap. Harus terus berjalan, terimakasih pak Prabowo," singkatnya.

Senada dengan Rinda, pengalaman serupa juga dirasakan Jaswati, ibu dari Dimas Fadil, siswa SMK Negeri 2 Samarinda.

Dia menggambarkan situasi sebelum program MBG hadir, siswa sangat bergantung pada uang saku harian yang diberikan orang tua.

Dengan nominal yang terbatas, banyak anak harus memilih-milih makanan atau bahkan menahan lapar ketika harga jajanan tidak terjangkau.

“Setelah ada MBG, perbedaannya cukup terasa. Anak-anak tidak khawatir lagi soal makanan karena sudah disediakan sekolah, dan menunya juga lebih terjamin gizinya. Mereka datang ke sekolah lebih tenang, tidak bingung mau makan apa hari ini,” kata Jaswati, dikonfirmasi via telepon whatsapp.

Dia melihat perubahan lain yang tak kalah penting, yakni kebiasaan mengelola uang. Uang saku yang sebelumnya langsung habis untuk jajan kini bisa ditabung atau dialihkan untuk kebutuhan lain seperti alat tulis.

Anak-anak, kata Jaswati, mulai belajar menahan diri sebelum membelanjakan uangnya. “Mereka jadi tidak sering minta uang tambahan lagi. Kebutuhan makan sudah dipenuhi dari MBG,” ujarnya.

Perubahan itu juga berdampak pada proses belajar. Dengan kebutuhan makan yang sudah terjamin, siswa bisa lebih fokus mengikuti pelajaran tanpa dihantui pikiran soal jajan. “Pikiran mereka jadi lebih tenang. Konsentrasi lebih baik,” tambahnya.

Dari sisi keluarga, Jaswati menilai MBG memberikan efek langsung pada pengeluaran harian. Orang tua tidak lagi harus menyiapkan uang jajan atau memikirkan bekal setiap pagi. Dampaknya terasa signifikan, terutama bagi keluarga dengan lebih dari satu anak.

Selain itu, MBG membuat semua siswa memperoleh makanan yang sama, menghilangkan perbedaan mencolok antara yang membawa uang saku besar dan yang tidak.

“Secara keseluruhan, anak jadi lebih tenang, lebih irit, dan lebih bijak soal uang. Belajarnya juga lebih fokus. Bagi kami, program ini sangat meringankan beban ekonomi,” tutupnya. (rd)

 

EKO PRALISTIO

pralistioeko@gmail.com

Editor : Romdani.
#Makan Bergizi Gratis (MBG) #penajam paser utara #Prabowo Subianto 2025 #ibu kota nusantara #Kutai Barat