KALTIMPOST.ID-Peningkatan indeks pembangunan manusia (IPM) Balikpapan tahun 2025 tidak sepenuhnya sejalan dengan laju pertumbuhan standar hidup layak masyarakat.
Meski IPM mencapai 83,23 poin dan terus menunjukkan tren positif, pertumbuhan pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan justru mengalami perlambatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan pada 2025 pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Balikpapan sebesar Rp 17,48 juta per tahun. Angka itu meningkat Rp 628 ribu atau 3,73 persen dibandingkan 2024.
Namun, laju pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan periode 2021–2024 yang mencapai 4,28 persen per tahun.
Dikatakan, bahwa perlambatan itu menjadi catatan penting dalam membaca struktur pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara lebih komprehensif.
“Dimensi standar hidup layak tetap meningkat. Namun laju pertumbuhannya pada 2025 melambat dibandingkan tahun sebelumnya. Itu menunjukkan bahwa daya beli masyarakat masih tumbuh, tetapi dengan kecepatan yang lebih moderat,” ujar Marinda.
Secara historis, pengeluaran riil per kapita Balikpapan terus mengalami kenaikan sejak 2021. Tahun tersebut, pengeluaran riil per kapita tercatat sebesar Rp 14,86 juta.
Kemudian naik menjadi Rp 15,45 juta pada 2022, Rp 16,19 juta pada 2023, dan Rp 16,85 juta pada 2024.
Kenaikan yang konsisten itu menandakan adanya perbaikan kondisi ekonomi rumah tangga, meski laju pertumbuhannya tidak selalu sama setiap tahun.
Marinda menambahkan bahwa perlambatan pertumbuhan pengeluaran riil per kapita bisa dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Termasuk penyesuaian harga, pola konsumsi masyarakat, dan dinamika ekonomi secara nasional dan regional.
“Perlu dipahami bahwa IPM tidak hanya ditentukan oleh pengeluaran. Pada 2025, peningkatan IPM Balikpapan justru lebih kuat ditopang oleh perbaikan di sektor kesehatan dan pendidikan,” jelasnya.
Baca Juga: Parade Budaya Nusantara Meriahkan HUT Ke-66 Paser, Diikuti 1.270 Peserta dari Beragam Etnis
Dengan komposisi tersebut, IPM Balikpapan tetap menunjukkan kualitas pembangunan manusia yang kuat, meski tantangan pada dimensi ekonomi perlu mendapat perhatian.
Menurutnya, keseimbangan antara peningkatan kualitas manusia dan penguatan daya beli menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pembangunan ke depan.
“Ke depan, menjaga momentum pertumbuhan ekonomi yang inklusif akan menjadi faktor penting agar peningkatan IPM dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat,” pungkasnya. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.