Pihak universitas baru menyadari kebocoran itu pada Februari 2024, meski data telah terekspos sejak dua tahun sebelumnya. Hasil peninjauan internal menunjukkan tautan dokumen dapat diakses secara bebas tanpa pembatasan.
Manajemen proyek melaporkan temuan tersebut ke administrasi kampus. SNU kemudian memutus akses dan menghapus data pada hari yang sama, serta melaporkan insiden itu kepada otoritas terkait sesuai aturan perlindungan data pribadi Korea Selatan.
Data yang terekspos mencakup identitas dasar mahasiswa, informasi kontak, afiliasi akademik, hingga keterangan sosial ekonomi. Sejumlah data sensitif lain seperti kondisi disabilitas, kebiasaan tidur, dan alasan mengikuti program juga ikut terbuka.
Kampus memastikan tidak ada data keuangan, nomor registrasi penduduk, maupun kata sandi yang bocor. Sejumlah mahasiswa menyatakan kekhawatiran data mereka berpotensi disalahgunakan untuk kejahatan digital, termasuk penipuan.
Editor : Uways Alqadrie