KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), merasa terusik akibat namanya disangkutpautkan dengan kontroversi ijazah palsu Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.
Menanggapi hal ini, politikus Partai Demokrat, Andi Arief, menyatakan bahwa SBY tengah mempertimbangkan untuk menempuh langkah hukum bagi pihak-pihak yang menyebarkan fitnah tersebut.
Dalam sebuah pernyataan video pada Rabu (31/12/2025), Andi Arief mengungkapkan hasil pertemuannya dengan SBY baru-baru ini.
Ia menegaskan bahwa SBY sama sekali tidak memiliki kaitan dengan munculnya isu ijazah Jokowi.
"Beliau (SBY) merasa sangat terganggu. Informasi yang menyebutkan Pak SBY merupakan dalang di balik isu ini, atau bahkan bekerja sama dengan Ibu Megawati untuk mengungkap persoalan ijazah Pak Jokowi, adalah tidak benar," tegas Andi Arief.
Menurut Andi, serangan fitnah tersebut marak dilakukan oleh akun-akun anonim di media sosial yang diduga memiliki afiliasi politik tertentu.
Narasi bohong yang beredar mencoba membenturkan SBY ke dalam konflik hukum yang saat ini melibatkan pihak lain.
Baca Juga: Harapan Kenaikan Gaji ASN 2026 Masih Menggantung, Ini Penjelasan Terbaru Menkeu
Andi Arief memastikan bahwa hubungan personal antara SBY dan Jokowi tetap harmonis.
Ia juga menambahkan bahwa SBY saat ini lebih banyak menghabiskan waktu di luar urusan politik, seperti melukis dan membina tim bola voli.
Karena serangan fitnah yang semakin masif, SBY disebut sedang menimbang untuk melayangkan somasi sebelum benar-benar membawa masalah ini ke meja hijau.
"Jika tidak segera berhenti, terbuka peluang bagi Pak SBY untuk mengambil langkah hukum demi keadilan, karena beliau difitnah atas hal yang tidak pernah dilakukan," lanjutnya.
Baca Juga: Pengamanan Malam Tahun Baru 2026 Sukses, Kapolres PPU Apresiatif
Andi menyerukan kepada seluruh simpatisan dan kader Partai Demokrat untuk solid membela SBY dari tuduhan tidak berdasar ini. Ia menekankan bahwa selama ini SBY selalu mengedepankan etika politik yang bersih.
"Pak SBY selalu mendidik kami untuk berpolitik secara sehat tanpa menyerang atau memfitnah. Namun, jika dizalimi seperti ini, kami harus melawan," pungkas pria yang juga menjabat sebagai Komisaris PLN tersebut.(*)
Editor : Dwi Puspitarini