KALTIMPOST.ID– Amerika Serikat mengumumkan telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, setelah melancarkan serangan militer berskala besar di sejumlah wilayah Venezuela, termasuk ibu kota Caracas pada Sabtu dini hari (2/1/2026) waktu setempat.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memastikan keduanya telah ditahan dan diterbangkan keluar dari Venezuela.
Pengumuman tersebut disampaikan setelah serangkaian ledakan mengguncang Caracas dan beberapa negara bagian lain pada Sabtu (3/1) dini hari waktu setempat.
Sementara itu, Pemerintah Venezuela menyebut serangan itu sebagai agresi militer langsung terhadap kedaulatan negara.
Baca Juga: Venezuela Diserang Amerika Serikat, Presiden Nicolas Maduro Ditangkap
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Maduro akan diadili di Amerika Serikat.
Senator Republik Mike Lee, mengutip pernyataan Rubio, mengatakan operasi militer tersebut dilakukan untuk melindungi personel AS yang menjalankan perintah penangkapan, serta menegaskan tidak ada rencana aksi militer lanjutan di Venezuela
Sementara itu, Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodríguez mengaku pemerintah belum mengetahui keberadaan Maduro dan istrinya.
"Ia menuntut Amerika Serikat memberikan bukti bahwa keduanya masih hidup," katanya seperti dikutip dari media berbahasa latin, Divergentes.
Menurut laporan CBS News, operasi penangkapan Maduro dilakukan oleh Delta Force, satuan elite pasukan khusus Angkatan Darat AS.
Washington selama bertahun-tahun menuduh Maduro melakukan kejahatan dengan terlibat jaringan narkotika internasional dan bekerja sama dengan kelompok yang dikategorikan sebagai organisasi teroris.
Namun, Tuduhan tersebut berulang kali dibantah Maduro.
Serangan ini terjadi setelah berbulan-bulan peningkatan kehadiran militer AS di kawasan Karibia. Armada perang AS, termasuk kapal induk USS Gerald R. Ford, dilaporkan dikerahkan di sekitar Venezuela.
Dalam beberapa pekan terakhir, AS juga menyita kapal tanker minyak Venezuela dan melancarkan serangan terhadap puluhan kapal yang dituding mengangkut narkoba.
Tak lama sebelum kabar penangkapan Maduro mencuat, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino López tampil di hadapan publik.
Ia mengecam tindakan AS sebagai pelanggaran berat terhadap kedaulatan nasional. Pernyataan itu disampaikan di tengah laporan ledakan di kompleks militer Fuerte Tiuna dan Pangkalan Udara La Carlota, yang disebut sebagai target strategis.
Penangkapan Maduro dilakukan di tengah dakwaan federal di AS terkait narko-terorisme serta hadiah USD 50 juta bagi informasi yang mengarah pada penangkapannya.
Hingga kini, lokasi penahanan Maduro belum diumumkan secara resmi, sementara situasi rantai komando militer Venezuela masih belum jelas
Pemerintah Venezuela menyatakan akan mengerahkan komando pertahanan nasional dan menegaskan hak untuk melakukan pembelaan diri atas apa yang disebutnya sebagai agresi militer Amerika Serikat.(*)
Editor : Thomas Priyandoko