KALTIMPOST.ID-Pemprov Kaltim sendiri mengklaim tengah menyiapkan arah baru pengembangan pariwisata.
Dinas Pariwisata Kaltim menegaskan fokus pada penguatan destinasi berbasis budaya dan ekowisata sebagai strategi menarik wisman pada 2026.
Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi mengatakan pengembangan desa wisata menjadi salah satu pilar utama.
Pendekatan itu diarahkan untuk mendorong ekonomi lokal sekaligus menjaga kelestarian budaya dan lingkungan.
“Bersama wujudkan desa wisata untuk ekonomi lokal, budaya yang ramah, lestari, dan mendunia, serta ekonomi kreatif yang berinovasi dan berkualitas di Kaltim,” ujar Ririn kepada awak media, Kamis (1/1).
Saat ini, promosi pariwisata Kaltim difokuskan pada ekowisata yang memadukan keindahan alam, kearifan lokal, dan wisata buatan bernilai estetika.
Potensi yang dimiliki terbilang besar, dengan hampir 600 destinasi tersebar di 10 kabupaten dan kota.
Ririn menyebut, mayoritas wisman yang datang ke Kaltim selama ini berasal dari Eropa. Mereka cenderung mencari pengalaman yang autentik dan tidak massal.
“Mereka tertarik pada atraksi budaya, menyusuri sungai di pedalaman, hingga menjelajahi hutan hujan tropis,” ujarnya.
Interaksi langsung dengan masyarakat lokal serta pengamatan satwa endemik di habitat aslinya juga menjadi daya tarik tersendiri.
Pemprov Kaltim menyadari bahwa penguatan destinasi harus dibarengi dengan aspek keamanan dan kenyamanan.
Menjelang libur Natal dan Tahun Baru 2025, pengawasan diperketat untuk meminimalisasi risiko kecelakaan di tempat wisata.
“Evaluasi keamanan dan keselamatan menjadi entry point utama kami,” tegas Ririn. Surat edaran kesiapan Nataru dari Kementerian Pariwisata telah disampaikan kepada seluruh mitra pariwisata, mulai dari PHRI, ASITA, APPBI, hingga desa-desa wisata.
Dispar Kaltim juga bekerja sama dengan BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi cuaca ekstrem.
Informasi cuaca rutin diperbarui melalui media sosial sebagai bahan persiapan bagi wisatawan. Langkah ini diambil menyusul pengalaman insiden kecelakaan wisata pada tahun-tahun sebelumnya yang tidak ingin terulang.
Selain keamanan, aspek hospitality dan transparansi harga menjadi perhatian. Ririn menegaskan keluhan terkait permainan tarif relatif jarang terjadi di Kaltim. “Kenyamanan dan hospitality menjadi perhatian pertama,” ujarnya.
Ke depan, Pemprov Kaltim berkomitmen mengalokasikan anggaran khusus untuk pengembangan pariwisata, terutama peningkatan fasilitas di desa-desa wisata.
Upaya lain yang didorong adalah pembukaan rute penerbangan baru guna memperbaiki aksesibilitas, termasuk menuju destinasi unggulan seperti Berau.
Untuk diketahui, sepanjang 2025, pariwisata Kaltim menunjukkan pemulihan dan pertumbuhan yang cukup solid, terutama dari wisatawan domestik.
Namun, di balik tren positif tersebut, ketergantungan pada pasar lokal dan terbatasnya daya tarik bagi wisatawan mancanegara masih menjadi tantangan struktural.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim mencatat, hingga September 2025, kunjungan wisatawan nusantara (wisnus) mendominasi pergerakan pariwisata daerah.
Pada periode Januari–Juli 2025 saja, jumlah perjalanan wisata domestik ke Kaltim telah mencapai sekitar 9,67 juta perjalanan, meningkat 28,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tren itu berlanjut pada bulan-bulan berikutnya. Pada September 2025, perjalanan wisatawan domestik tercatat masih berada di atas satu juta perjalanan per bulan, menunjukkan kuatnya mobilitas intra dan antarwilayah di dalam negeri.
Sebaliknya, kontribusi wisatawan mancanegara (wisman) masih relatif kecil, meski memperlihatkan pertumbuhan tahunan.
Pada Agustus 2025, jumlah kunjungan wisman ke Kaltim mencapai 1.318 orang, meningkat 30,6 persen dibanding Juli 2025 dan melonjak lebih dari 150 persen dibanding Agustus 2024.
Namun pada September 2025, angka tersebut turun menjadi 802 kunjungan, meski tetap lebih tinggi secara tahunan dibanding periode yang sama tahun lalu.
Fluktuasi ini mengindikasikan bahwa pasar wisman Kaltim masih rentan terhadap faktor eksternal, mulai dari aksesibilitas, kondisi lingkungan, hingga keterbatasan destinasi berstandar internasional. (rdh/rd)
Editor : Romdani.