Utama Samarinda Balikpapan Kaltim IKN Nasional Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Kronologi Lengkap Detik-detik Pasukan Delta Force dan CIA Menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Uways Alqadrie • Minggu, 4 Januari 2026 | 08:21 WIB

Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Presiden Venezuela Nicolas Maduro
KALTIMPOST.ID, WASHINGTON — Sabtu dini hari masih gelap ketika Donald Trump menekan tombol kirim di akun Truth Social miliknya. Pukul 04.21 waktu setempat, Presiden Amerika Serikat itu mengumumkan bahwa negaranya telah menuntaskan sebuah misi rahasia: menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro beserta istrinya.

Operasi tersebut bukan keputusan dadakan. Menurut sejumlah sumber yang mengetahui langsung perencanaan misi, penangkapan Maduro merupakan salah satu operasi intelijen dan militer Amerika Serikat paling rumit dalam beberapa tahun terakhir. Persiapannya berlangsung berbulan-bulan, lengkap dengan simulasi dan latihan berulang.

Pasukan elite Delta Force Angkatan Darat Amerika Serikat membangun replika identik rumah persembunyian Maduro. Dari struktur bangunan hingga titik masuk yang paling sulit ditembus, semuanya disalin persis. Tujuannya satu: memastikan pasukan dapat menembus kediaman yang dijaga sangat ketat tanpa kesalahan.

Di saat yang sama, CIA telah lebih dulu menempatkan tim kecil di Venezuela sejak Agustus. Tim ini mempelajari rutinitas harian Maduro—jam bergerak, lokasi berpindah, hingga pola keamanannya.

Dua sumber mengatakan CIA juga memiliki aset yang berada dekat dengan lingkaran dalam Maduro, yang siap mengonfirmasi lokasi presiden Venezuela itu saat operasi dimulai. Informasi tersebut dilaporkan Reuters pada Minggu, 4 Januari 2026.

Empat hari sebelum eksekusi, Trump akhirnya memberikan lampu hijau. Meski begitu, para perencana militer dan intelijen meminta presiden menunggu kondisi cuaca yang lebih ideal, dengan tutupan awan minimal. Saran itu diikuti.

Pada Sabtu dini hari, operasi dimulai. Trump berada di klub Mar-a-Lago miliknya di Palm Beach, Florida. Dikelilingi para penasihat, ia menyaksikan jalannya misi secara langsung melalui tayangan real-time.

Di Karibia, Pentagon telah lebih dulu mengerahkan kekuatan besar. Sebuah kapal induk, 11 kapal perang, dan lebih dari selusin jet tempur siluman F-35 bergerak ke kawasan tersebut. Total lebih dari 15.000 personel militer dikerahkan, yang secara resmi disebut sebagai operasi anti-narkoba.

Menurut salah satu sumber, lingkaran inti pemerintahan Trump—termasuk Stephen Miller, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, dan Direktur CIA John Ratcliffe—telah menangani operasi ini selama berbulan-bulan.

Mereka rutin menggelar pertemuan dan panggilan telepon, bahkan nyaris setiap hari, serta kerap melaporkannya langsung kepada Trump.

Malam Jumat hingga Sabtu dini hari, sejumlah pesawat tempur Amerika lepas landas. Targetnya berada di dalam dan sekitar Caracas. Sistem pertahanan udara Venezuela menjadi sasaran utama. Trump kemudian mengatakan kepada acara Fox & Friends bahwa jumlah pesawat yang dikerahkan sangat besar. “Kami memiliki jet tempur untuk setiap kemungkinan,” ujarnya.

Selain jet tempur, Pentagon juga mengerahkan pesawat tanker pengisi bahan bakar, pesawat nirawak, serta armada khusus pengacakan elektronik. Para pejabat Amerika mengatakan serangan udara menghantam target militer. Foto Reuters dari Pangkalan Udara La Carlota di Caracas memperlihatkan kendaraan anti-pesawat Venezuela yang hangus terbakar.

Setelah serangan udara mereda, pasukan khusus Amerika bergerak masuk ke Caracas. Mereka membawa persenjataan lengkap, termasuk obor las yang disiapkan untuk memotong pintu baja bila diperlukan.

Pemerintah Amerika tidak mengungkap bagaimana pasukan memasuki kota. Namun, video yang beredar di media sosial menunjukkan konvoi helikopter terbang rendah di atas ibu kota Venezuela.

Begitu tiba di rumah persembunyian Maduro, pasukan Delta Force bersama agen FBI melakukan penyerbuan. Trump menggambarkan kediaman itu sebagai “benteng yang dijaga sangat ketat.” Pasukan menembus pintu-pintu baja yang dirancang khusus untuk menahan serangan.

“Mereka menerobos masuk ke tempat-tempat yang sebenarnya tidak bisa ditembus,” kata Trump. “Itu hanya butuh hitungan detik.”

Maduro disebut berusaha melarikan diri ke ruang aman di dalam rumah tersebut. Namun upaya itu gagal. “Dia mencoba masuk, tetapi diserbu begitu cepat sehingga tidak sempat mencapainya,” ujar Trump.

Beberapa personel Amerika terkena tembakan selama operasi berlangsung, tetapi tidak ada korban jiwa. Saat penangkapan berjalan, Rubio mulai memberi tahu sejumlah anggota parlemen. Pemberitahuan baru disampaikan setelah operasi dimulai, bukan sebelumnya, seperti yang lazim dilakukan kepada anggota parlemen pengawas.

Evakuasi Maduro dari Caracas berlangsung cepat. Trump mengungkapkan satu helikopter terkena tembakan cukup keras, namun berhasil kembali. Maduro kemudian diterbangkan ke USS Iwo Jima, kapal serbu amfibi milik Angkatan Laut Amerika Serikat.

Dari kapal tersebut, Presiden Venezuela itu akan dipindahkan ke New York untuk menjalani proses hukum.

“Saya pernah melakukan banyak operasi besar,” kata Trump beberapa jam setelah misi selesai. “Tapi saya belum pernah melihat yang seperti ini.”

Kronologi Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro

Agustus 2025:

Badan intelijen Amerika Serikat, CIA, menempatkan tim kecil di Venezuela. Tim ini bertugas memantau pola hidup, rutinitas, dan pergerakan Presiden Nicolas Maduro. CIA juga memiliki aset yang berada dekat dengan lingkaran dalam Maduro untuk memastikan lokasi presiden saat operasi berlangsung.

Bulan-bulan berikutnya

Pasukan khusus Delta Force Angkatan Darat AS melakukan latihan intensif. Mereka membangun replika persis rumah persembunyian Maduro dan melatih skenario penyerbuan ke kediaman yang dijaga ketat, termasuk cara menembus pintu-pintu baja.

Empat hari sebelum operasi (akhir Desember 2025)

Presiden AS Donald Trump menyetujui rencana penangkapan Maduro. Namun, atas saran perencana militer dan intelijen, pelaksanaan ditunda hingga kondisi cuaca dinilai lebih mendukung.

Jumat malam – Sabtu dini hari, 4 Januari 2026

Pentagon mengerahkan kekuatan militer besar ke kawasan Karibia. Sebuah kapal induk, 11 kapal perang, lebih dari selusin jet tempur siluman F-35, pesawat tanker pengisi bahan bakar, pesawat nirawak, serta pesawat pengacakan elektronik digerakkan. Total lebih dari 15.000 personel dikerahkan.

Sabtu dini hari

Pesawat-pesawat tempur Amerika Serikat melakukan serangan udara ke target militer di dalam dan sekitar Caracas, termasuk sistem pertahanan udara Venezuela. Citra dari pangkalan udara La Carlota menunjukkan kendaraan anti-pesawat Venezuela terbakar.

Pukul 04.21 waktu setempat

Presiden Donald Trump mengumumkan melalui Truth Social bahwa Amerika Serikat telah menjalankan misi untuk menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya.

Setelah serangan udara

Pasukan khusus Amerika Serikat memasuki Caracas dengan perlengkapan tempur lengkap, termasuk obor las untuk memotong pintu baja jika diperlukan. Video yang diunggah warga memperlihatkan helikopter terbang rendah di atas ibu kota Venezuela.

Penyerbuan rumah persembunyian

Pasukan Delta Force bersama agen FBI menyerbu rumah persembunyian Maduro yang digambarkan sebagai benteng berpengamanan ketat. Pasukan menembus pintu-pintu baja dan area yang dirancang untuk menahan serangan.

Detik-detik penangkapan

Maduro berusaha masuk ke ruang aman, namun gagal karena pasukan menyerbu dengan cepat. Beberapa personel AS terkena tembakan, tetapi tidak ada korban tewas.

Selama operasi berlangsung

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mulai memberi pemberitahuan kepada sejumlah anggota parlemen setelah operasi dimulai, bukan sebelumnya.

Evakuasi

Maduro dievakuasi menggunakan helikopter. Salah satu helikopter sempat terkena tembakan, namun berhasil kembali. Presiden Venezuela tersebut kemudian diterbangkan ke kapal serbu amfibi USS Iwo Jima.

Pasca-penangkapan

Maduro dipastikan berada dalam tahanan Amerika Serikat dan direncanakan diterbangkan ke New York untuk menjalani proses hukum.

 

Editor : Uways Alqadrie
#Presiden Venezuela Nicolas Maduro #operasi rahasia militer #nicholas maduro #presiden donald trump #penangkapan presiden Venezuela