KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Program cetak sawah yang digulirkan pemerintah dinilai bukan sekadar proyek pertanian biasa. Di Kaltim peluang itu disebut bisa menjadi ladang bisnis menjanjikan bagi generasi muda, dengan potensi penghasilan hingga Rp 10 juta per bulan tanpa harus merantau ke kota.
Kepala Balai Penerapan Modernisasi Pertanian Kaltim, Akhmad Hamdan mengatakan, pada 2026 pihaknya masih menargetkan cetak sawah seluas 20 hektare. Program ini berada di bawah Kementerian Pertanian dan dirancang untuk melibatkan pemuda sebagai pelaku utama.
“Ini peluang besar bagi kaum muda. Bagaimana mereka bisa berkiprah menjadi pengusaha beras atau padi, bukan sekadar petani biasa,” kata Hamdan, Rabu (7/1). Dia menjelaskan, setiap 200 hektare lahan sawah akan dikelola oleh satu kelompok brigadir pangan yang terdiri dari 12 orang. Struktur organisasinya dibuat profesional, mulai dari manajer hingga operator lapangan.
Baca Juga: Insiden Tongkang di Mahulu Marak di Luar Jam Pandu, DPRD Kaltim Soroti Pelanggaran
BRMP, lanjut dia, berhadap petani muda yang terlibat memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi dan digitalisasi. Menurutnya, mayoritas petani di Kaltim saat ini masih berusia di atas 50 tahun dan belum sepenuhnya melek teknologi.
“Kalau petani muda, apa pun bisa dijalankan. Melek IT, bisa pakai teknologi. Bahkan menyiram tanaman bisa pakai drone, tidak perlu lagi turun ke lumpur,” ujarnya. Hamdan menegaskan, anak muda tak perlu lagi mencari pekerjaan ke luar desa. Potensi alam di desa justru bisa dikelola secara modern dan menguntungkan.
Setiap kabupaten di Kaltim telah mengusulkan lahan sawah, sementara brigadir pangan bertugas mengelolanya secara profesional. “Satu brigadir pangan mengelola 200 hektare, penghasilannya bisa sekitar Rp 10 juta per bulan,” jelasnya.
Baca Juga: Super Flu Dominan Serang Anak, Kaltim Siaga Meski Belum Ada Kasus
Dari sisi produksi, Hamdan menyebut hasil panen di Kaltim bisa mencapai 3–4 ton per hektare. Dengan harga gabah setara Rp 6.500 per kilogram dan biaya produksi sekitar 8–10 persen, potensi keuntungan per hektare bisa menembus puluhan juta rupiah.
“Itu dikalikan 200 hektare. Makanya Pak Menteri bilang ini sangat menjanjikan,” tegas Hamdan. Namun, dia mengingatkan, peluang ini hanya bisa dimanfaatkan oleh pemuda yang memiliki jiwa kewirausahaan. “Kalau pemuda hanya mau minta-minta, selesai itu,” sentilnya.
Terkait mandeknya pembelian gabah pada 2025 silam, Hamdan menyebut, hal itu justru menjadi indikator keberhasilan. Saat itu produksi mengalami surplus sehingga daya tampung Bulog terbatas.
Baca Juga: Pemanduan Sungai Mahakam Lewat Perusda, KSOP Tanggapi Pernyataan Gubernur Kaltim
Sebagai solusi, kini Bulog menerapkan skema baru dengan menggandeng penggilingan padi di desa. Dalam skema ini, Bulog tidak lagi membeli gabah, melainkan langsung menyerap beras. “Biaya-biaya diselesaikan di penggilingan desa. Bulog langsung menerima beras, bukan gabah,” jelasnya.
Dari identifikasi keterlibatan pemuda dalam proyek tersebut, Hamdan mengaku masih adanya persoalan mindset di kalangan pemuda yang enggan terjun ke sektor pertanian. Banyak yang memandang petani sebagai pekerjaan kelas bawah. “Mereka melihat orang tua dan neneknya dulu ke sawah penuh lumpur. Padahal dengan teknologi sekarang, kita tidak harus menyentuh tanah langsung,” pungkasnya. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki