Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Hujan Tak Menentu, Pupuk Telat, Sawah Terendam: Petani Samarinda Utara Berjibaku Jaga Asa Swasembada Prabowo

Eko Pralistio • Kamis, 8 Januari 2026 | 09:09 WIB

Manajer Brigade Pangan Sulumanuntung, Adung KS Utomo. (EKO PRALISTIO/KP)
Manajer Brigade Pangan Sulumanuntung, Adung KS Utomo. (EKO PRALISTIO/KP)

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Swasembada yang digaungkan pemerintah pusat diuji dari hamparan sawah tadah hujan. Di Samarinda, tepatnya di Jalan Betapus, Kecamatan Samarinda Utara, curah hujan yang sulit ditebak, banjir berulang, irigasi yang belum optimal, hingga pupuk sering datang terlambat membuat petani di sana pernah mengalami gagal panen. 

Dalam dua musim tanam 2025, sawah di kawasan Betapus terendam. Dua kali tanam, dua kali pula hasil tak sesuai harapan. Pada musim kedua, padi sempat dipanen, namun produktivitasnya anjlok drastis.

“Wilayah Betapus ini dua kali tanam, dua kali gagal. Yang kedua memang sempat panen, tapi hasilnya turun jauh, itu tahun 2025," kata Manajer Brigade Pangan Sulumanuntung, Adung KS Utomo, Kamis (8/1).

Baca Juga: Tak Perlu Merantau, Anak Muda Kaltim Bisa Raup Rp 10 Juta per Bulan dari Cetak Sawah

Di Samarinda, ada dua pelopor swasembada pangan di sektor beras. Adalah Brigade Pangan Sulumanuntung yang bergerak di bagian Kecamatan Samarinda Utara. Sedangan satunya lagi di Kecamatan Sambutan, Brigade Afnan Sejahtera. 

Meski dibagian utara kerap dihantam persoalan alam, Adung menyebut program Brigade Pangan di Samarinda Utara tetap berjalan. Berbagai bantuan dari pemerintah telah diterima petani, mulai dari alat mesin pertanian (alsintan), kapur, bibit, hingga obat-obatan.

“Alhamdulillah, progres di Brigade Pangan Sulumanuntung cukup lumayan. Bantuan sudah kita terima hampir semuanya,” ujarnya.

Namun, masih ada pekerjaan rumah. Bantuan berupa mesin kombain dan drone pertanian belum terealisasi. Menurut informasi terakhir, bantuan itu baru akan diturunkan pada 2026.

Baca Juga: Tiga Perusahaan Tongkang Penabrak Jembatan Mahulu Wajib Ganti Rugi, Peran Pelindo Disorot

Brigade Pangan Sulumanuntung mengelola lahan seluas 210 hektare yang tersebar di tiga kelurahan: Lempake, Tanah Merah, dan Sempaja Utara. Seluruhnya ditanami padi, dengan varietas Mie Kongga pada musim tanam kali ini.

“Mie Kongga itu kualitas rasa berasnya lebih bagus. Kalau produktivitas, memang Impari 32 lebih tinggi,” jelas Adung.

Rata-rata produksi padi sepanjang 2025 masih berada di angka 3,5 hingga 4 ton per hektare. Untuk wilayah Tanah Merah, targetnya bisa mencapai 4 hingga 5,5 ton per hektare, sementara Lempake masih di kisaran 3–4 ton.

Dalam dua musim tanam 2025, sawah di kawasan Betapus terendam. Dua kali tanam, dua kali pula hasil tak sesuai harapan. Pada musim kedua, padi sempat dipanen, namun produktivitasnya anjlok drastis.
Dalam dua musim tanam 2025, sawah di kawasan Betapus terendam. Dua kali tanam, dua kali pula hasil tak sesuai harapan. Pada musim kedua, padi sempat dipanen, namun produktivitasnya anjlok drastis.

“Kalau di sini bisa tembus 7–8 ton saja sudah luar biasa,” katanya. Masalah terbesar petani Samarinda Utara tetap soal air. Sawah masih bergantung pada hujan, sementara irigasi yang ada belum berfungsi maksimal. Waduk Benanga yang seharusnya menopang pengairan pun belum bisa diandalkan.

“Kadang padi harus dikeringkan, tapi hujan terus. Saat butuh air, justru tidak ada. Ini sulit dikendalikan,” ucap Adung. Kondisi itu membuat produktivitas sulit melonjak, apalagi untuk mengejar target ideal seperti simulasi panen 15 ton per hektare yang pernah disampaikan pemerintah pusat.

Baca Juga: Super Flu Dominan Serang Anak, Kaltim Siaga Meski Belum Ada Kasus

Selain cuaca, persoalan distribusi pupuk juga menjadi ganjalan. Stok pupuk disebut aman, namun waktu pendistribusiannya kerap meleset dari kebutuhan petani.

“Usia padi 7 sampai 10 hari itu harus dipupuk. Tapi sering kali pupuk belum turun. Kalau telat, produktivitas pasti turun,” jelasnya.

Gagal panen berarti kerugian besar. Modal tanam per hektare berkisar Rp10–12 juta. Jika puluhan hektare terendam, kerugian petani pun membengkak.

“Silakan hitung saja, kalau puluhan hektare, nilainya besar,” katanya. Masalah tak berhenti di sawah. Pada panen ketiga 2025, gabah petani sempat tak terserap Bulog. Akibatnya, petani harus mencari pasar sendiri ke penggilingan.

“Yang diharapkan petani itu kepastian harga dan pasar. Kalau ini tidak ada, semangat menanam pasti turun,” ujar Adung. Menurutnya, program swasembada pangan tak cukup hanya kuat di hulu. Hilirisasi dan penyerapan hasil panen menjadi kunci menjaga semangat petani.

Baca Juga: Kaltim Kebut Swasembada Pangan: Optimalisasi Lahan dan Cetak Sawah Baru Digenjot hingga 2026

Dari sisi sumber daya manusia, Brigade Pangan Sulumanuntung beranggotakan 15 orang. Namun, mayoritas petani masih berusia di atas 50 tahun. Regenerasi petani muda menjadi tantangan tersendiri.

“Brigade Pangan ini sebenarnya dibentuk untuk menarik minat petani muda. Programnya bagus, tapi butuh sinergi semua pihak,” tegasnya.

Menghadapi musim tanam saat ini, Adung mengaku belum berani bicara lonjakan hasil. Panen diperkirakan mulai awal Maret, secara bertahap.

“Saya hanya bisa memberi semangat ke teman-teman. Hasilnya kita lihat nanti. Yang penting, kalau gagal kita tahu penyebabnya dan dorong solusinya ke pemerintah,” pungkasnya.

Di tengah hujan yang tak menentu dan irigasi yang belum ramah petani, asa swasembada pangan di Samarinda Utara masih dijaga. Meski tertatih, para petani memilih bertahan. (*/riz)

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#Betapus #sawah tadah hujan #samarinda