KALTIMPOST.ID,JAKARTA-Isra Mi’raj menempati posisi sebagai salah satu mukjizat paling sakral dalam lini masa sejarah Islam. Peristiwa ini mengisahkan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW yang diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, sebelum akhirnya naik melintasi tingkatan langit hingga mencapai Sidratul Muntaha.
Salah satu aspek yang sering menjadi sorotan adalah keberadaan langit yang terbagi dalam tujuh tingkatan. Al-Qur'an secara eksplisit menyebutkan struktur tujuh lapis langit ini sebagai bukti otentik atas kemahakuasaan Sang Pencipta dalam merancang alam semesta.
Secara interpretasi, konsep tujuh lapis langit ini dapat dipahami melalui dua sudut pandang. Pertama, simbol kesempurnaan. Dalam berbagai tradisi kuno dan agama (seperti Islam dan Hindu), angka tujuh sering dianggap mewakili kesempurnaan atau hierarki alam semesta yang kompleks.
Baca Juga: Semeru Mengamuk! Empat Letusan Beruntun Hujani Langit Lumajang dengan Abu Vulkanik
Kedua, dimensi metafisik. Lebih dari sekadar susunan fisik yang bersifat saintifik-modern, lapisan-lapisan ini merupakan gagasan spiritual yang melambangkan tingkatan alam yang berbeda.
Tiap tingkatan langit bukan hanya struktur ruang, melainkan cerminan derajat kedekatan makhluk dengan Tuhannya. Perjalanan Mi’raj memberikan pelajaran berharga bahwa untuk mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah, seorang hamba harus menempuh proses penyucian hati dan penguatan tauhid.
Relevansi di Era Modern
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi, seringkali manusia merasa telah menaklukkan alam semesta. Namun, hakikat tujuh lapis langit ini hadir sebagai pengingat akan keterbatasan akal manusia. Masih banyak misteri jagat raya yang belum terjangkau oleh logika manusia.
Oleh karena itu, ilmu pengetahuan seharusnya tidak membuat manusia menjadi sombong atau menjauh dari agama. Sebaliknya, setiap penemuan baru di alam semesta semestinya mempertebal rasa kagum dan keimanan kepada Allah yang Maha Sempurna.(*)
Editor : Thomas Priyandoko