KALTIMPOST.ID, Kasus dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Kecamatan Berbak, Jambi, mendadak menjadi sorotan nasional.
Video kericuhan yang beredar luas di media sosial memantik beragam reaksi publik, termasuk munculnya tuntutan dari siswa agar guru tersebut dipindahkan dari sekolah.
Guru yang terlibat dalam insiden tersebut, Agus Saputra, akhirnya angkat bicara dan membeberkan kronologi versinya.
Ia mengakui adanya tamparan terhadap seorang siswa, namun menegaskan hal itu terjadi secara spontan setelah dirinya merasa dilecehkan secara verbal di lingkungan sekolah.
Baca Juga: Persebaya Tak Benar-Benar Libur, Bernardo Tavares Siapkan Sesuatu di Balik Jeda Liga
Awal Ketegangan di Lingkungan Sekolah
Menurut Agus, insiden bermula saat proses belajar mengajar berlangsung. Ia mengaku mendengar teriakan dari dalam kelas yang dinilai tidak pantas dan merendahkan martabatnya sebagai pendidik.
“Saya ditegur dengan teriakan-teriakan yang tidak hormat, kata-katanya tidak pantas, padahal dia masih dalam jam belajar,” ujar Agus Saputra saat diwawancarai media.
Merasa terganggu, Agus masuk ke kelas dan meminta siswa yang berteriak untuk mengaku. Siswa tersebut berdiri dan menjawab dengan nada menantang.
“Dia bilang ‘Saya!’ dengan nada menantang. Secara refleks saya menampar satu kali,” ungkap Agus Saputra.
Ia menegaskan bahwa tamparan itu bukan bentuk penganiayaan, melainkan reaksi spontan.
“Dia langsung menantang saya. Akhirnya saya refleks menampar mukanya sekali. Itulah kejadian awalnya,” ujarnya kepada media.
Baca Juga: Harga Emas Antam pada Kamis 15 Januari 2026: Bertahan di Level Rp 2,665 Juta per Gram, Cek Daftarnya
Mediasi Gagal, Guru Mengaku Dikeroyok
Ketegangan ternyata tidak berhenti di kelas. Agus mengklaim konflik berlanjut hingga jam istirahat dan memuncak pada siang hari, Selasa (13/1/2026) sekitar pukul 13.00–16.00 WIB, meski pihak sekolah telah berupaya melakukan mediasi.
“Saya berusaha tetap tenang. Saya berada di dalam kantor, ada CCTV, bahkan saya merekam sendiri teriakan-teriakan mereka ke arah saya,” katanya.
Dalam proses mediasi, Agus menyampaikan dua pilihan kepada siswa. “Saya menawarkan 2 opsi, siswa membuat petisi bila tidak menginginkan saya mengajar lagi, atau berjanji memperbaiki sikap,” jelasnya.
Namun, menurut pengakuannya, suasana justru semakin tak terkendali. “Saya dikeroyok oleh siswa kelas satu, dua, dan tiga. Videonya ada dan sudah viral,” tegas Agus Saputra.
Ia mengaku mengalami pemukulan, lemparan batu, serta benda keras lainnya hingga menyebabkan lebam dan nyeri di beberapa bagian tubuh.
Klarifikasi Soal Senjata Tajam yang Viral
Terkait video yang menampilkan dirinya membawa senjata tajam, Agus memberikan klarifikasi.
“SMK kami sekolah pertanian. Alat-alat seperti itu memang tersedia dan tersimpan di kantor,” jelasnya.
Ia membantah adanya niat melakukan kekerasan. “Saya hanya ingin mereka bubar. Faktanya, saya justru dilempari batu,” katanya.
OSIS Minta Guru Dipindahkan
Di tengah polemik yang berkembang, pernyataan dari Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur turut viral di media sosial.
Jambi, Guru AS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur, Kecamatan Berbak, memberikan klarifikasi terkait insiden pengeroyokan yang melibatkan dirinya dengan sejumlah siswa. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, peristiwa tersebut bermula dari ketegangan di dalam kelas yang kemudian memicu… https://t.co/iIDmjaKbAV pic.twitter.com/2cpxwunw7q— Never (@neVerAl0nely___) January 14, 2026
Dalam video yang diunggah akun X @neveral0nely___, pihak OSIS menyampaikan sikap mereka.
“Kami hanya ingin beliau (Agus Saputra) dipindahkan ke tempat yang lain karena kami merasa tidak nyaman, jika beliau masih berada di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur. Sekian, terima kasih,” ujar Ketua OSIS SMKN 3 Tanjung Jabung Timur.
Baca Juga: Tips Mudah Membuat Makanan Kukusan Tanpa Alat Pengukus Khusus!
Guru Pertimbangkan Jalur Hukum
Meski mengaku sebagai korban pengeroyokan, Agus menyatakan masih mempertimbangkan langkah hukum.
“Mereka saya didik bertahun-tahun. Secara psikologis mereka masih butuh bimbingan. Kalau ke ranah hukum, itu keputusan berat,” ujarnya.
Sebagai langkah awal, ia memilih mengadukan kasus ini ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi.
“Saya bawahan dinas. Kalau tidak mengadu ke sini, ke mana lagi? Ini soal saling menghormati dan mencari solusi,” katanya.
Agus juga menegaskan bahwa persoalan ini bukan kejadian pertama. “Saya sudah mengajar hampir 16 tahun.
Ini baru pertama kali saya menampar siswa, tapi perundungan verbal sudah terjadi 2 sampai 3 tahun, hampir satu kelas,” ungkapnya. ***
Editor : Dwi Puspitarini