Kementerian Luar Negeri Italia menyebutkan sekitar 600 warga negaranya masih berada di Iran, sebagian besar menetap di Teheran. Pemerintah Italia secara tegas meminta mereka meninggalkan negara tersebut sesegera mungkin.
Polandia juga mengeluarkan peringatan serupa melalui akun resmi Kementerian Luar Negeri di platform X. Warga Polandia diminta menghindari perjalanan ke Iran hingga situasi dinilai aman.
Pemerintah Jerman turut mengingatkan risiko serius bagi warga asing di Iran. Kedutaan Besar Jerman di Teheran menyebutkan adanya potensi penangkapan sewenang-wenang dan mendesak warga Jerman yang masih berada di sana untuk segera keluar dari Iran.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Spanyol menilai kondisi keamanan di Iran dan kawasan sekitarnya sangat tidak stabil. Warga Spanyol yang berada di Iran diminta memanfaatkan jalur transportasi yang masih tersedia untuk meninggalkan negara tersebut.
Iran dilanda aksi protes sejak 28 Desember lalu, dipicu merosotnya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi. Unjuk rasa yang awalnya terjadi di sejumlah wilayah kemudian meluas ke berbagai kota lain di negara itu.
Korban Jiwa Tidak Terpantau
Gelombang protes yang melanda Iran sejak akhir Desember lalu semakin sulit dipantau publik internasional. Pemerintah Iran dilaporkan memutus akses internet nasional selama lebih dari enam hari berturut-turut hingga Kamis (15/1/2026), membuat arus informasi dari dalam negeri nyaris terhenti. KeBaca Juga: Kasus Dana Syariah Indonesia Naik Penyidikan, Bareskrim: Kerugian Gagal Bayar Rp 2,4 Triliun
Pemadaman jaringan komunikasi ini berdampak besar terhadap pelaporan situasi lapangan. Informasi mengenai bentrokan antara aparat dan massa menjadi tidak sinkron, sementara angka korban jiwa yang beredar dari berbagai pihak menunjukkan perbedaan signifikan.
Lembaga pemantau internet NetBlocks menyatakan bahwa penghentian akses digital dalam waktu lama berpotensi memperkuat narasi sepihak. Kondisi tersebut juga membuka ruang bagi penyebaran disinformasi, termasuk konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan, tanpa bisa diverifikasi secara independen.
Akibat terputusnya koneksi, proses verifikasi jumlah korban tewas juga terkendala. Sejumlah organisasi HAM, media internasional, hingga lembaga intelijen asing mengeluarkan estimasi berbeda terkait jumlah korban akibat aksi protes berdarah ini.
Hingga kini, tidak ada data resmi yang dapat diakses dari kantor berita pemerintah Iran karena situs-situs media lokal dilaporkan masih tidak bisa dibuka dari luar negeri.
Di tengah krisis komunikasi ini, beberapa negara mulai mencari cara untuk membantu warga Iran tetap terhubung. Pemerintah Prancis, misalnya, mempertimbangkan pemanfaatan satelit komunikasi milik Eutelsat dan OneWeb sebagai alternatif akses internet selama pemblokiran berlangsung.
Daftar Jumlah Korban Demo Iran Menurut Berbagai Sumber
Berikut rangkuman data korban tewas berdasarkan versi masing-masing lembaga:
1. HRANA (Human Rights Activists News Agency)
Total korban tewas: 2.615 orang
Rincian:
13 anak di bawah usia 18 tahun
14 warga sipil non-demonstran
153 aparat keamanan dan pendukung pro-pemerintah
882 kasus masih dalam proses penyelidikan
2. Iran Human Rights (IHR) – Berbasis di Norwegia
Total korban tewas: 3.428 orang
Klaim tambahan:
3.379 demonstran tewas pada periode 8–12 Januari
Data diklaim bersumber dari rumah sakit, kamar jenazah, dan Kementerian Kesehatan Iran
3. Intelijen Israel
Perkiraan korban tewas: Sekitar 5.000 orang
Tidak disertai rincian kategori korban
4. Media Iran International (Berbasis di Inggris)
Estimasi korban tewas: Lebih dari 12.000 jiwa
Angka disebut berdasarkan laporan lapangan dan sumber internal Iran
5. Media Resmi Iran (IRNA, Mehr News, Fars)
Data: Tidak tersedia
Editor : Uways Alqadrie