Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

LAPORAN KHUSUS: Bacitra Jadi Moda Utama Transportasi Balikpapan, Dishub Siapkan Integrasi Angkot dan Rencana Induk Hingga 2026

Muhammad Ridhuan • Minggu, 18 Januari 2026 | 06:30 WIB
Bus Bacitra yang melayani warga di Balikpapan. Saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)
Bus Bacitra yang melayani warga di Balikpapan. Saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak. (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID-Kehadiran Bacitra menandai babak baru transportasi publik di Balikpapan setelah puluhan tahun bergantung pada pola lama.

Bus tidak lagi sekadar pelengkap, melainkan mulai diarahkan sebagai moda utama yang mampu melayani kebutuhan mobilitas perkotaan secara lebih terukur.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Balikpapan Muhammad Fadli Pathurrahman menjelaskan, pengembangan transportasi kota saat ini tidak hanya berfokus pada bus, tetapi pada penataan seluruh ekosistem moda transportasi.

Menurutnya, Dishub Balikpapan membagi sistem transportasi kota ke dalam empat segmen utama.

“Yang pertama transportasi pribadi, kedua transportasi online, ketiga transportasi umum berupa bus dan Bacitra, serta angkutan kota. Empat segmen ini sementara kami kembangkan secara bersamaan,” kata Fadli.

Ia menyebut, Pemkot Balikpapan tengah menyusun rencana induk jaringan angkutan yang ditargetkan rampung pada 2026.

Dokumen itu akan menjadi pedoman pembagian peran masing-masing moda transportasi, termasuk pengaturan trayek, integrasi antarmoda, serta arah pengembangan jangka menengah dan panjang.

“Rencana induk tersebut juga disusun untuk menjawab persoalan menurunnya minat masyarakat terhadap angkutan kota. Dari total 514 unit angkot yang tercatat di Balikpapan, hanya sekitar 270 unit yang masih dalam kondisi layak operasi. Penurunan kualitas armada dan layanan membuat angkot semakin ditinggalkan penumpang,” jelasnya.

Ke depan, angkutan kota direncanakan tidak lagi bersaing langsung dengan Bacitra. Dishub Balikpapan akan mengarahkan angkot ke segmen-segmen tertentu.

Seperti angkutan pelajar, angkutan wisata, serta pendukung aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk distribusi hasil pertanian dan kebutuhan harian.

Pembagian segmen itu diharapkan dapat menjaga keberlangsungan angkutan kota sekaligus memperkuat peran bus sebagai moda utama.

“Selain pembagian segmen, integrasi antarmoda menjadi fokus penting. Pemerintah kota menargetkan adanya jaminan ketepatan waktu, kualitas layanan, dan kemudahan perpindahan moda. Integrasi ini juga didukung oleh penerapan sistem pembayaran non-tunai sebagai bagian dari agenda Balikpapan menuju smart city,” ungkap Fadli.

Baca Juga: Pemprov Kaltim Pastikan Porprov VIII 2026 di Paser Tetap Digelar November, Tak Jadi Ditunda

Dalam konteks operasional, kerja sama antara Pemkot Balikpapan dan Kementerian Perhubungan untuk layanan Bacitra berlangsung hingga 1 Juli 2027.

Setelah masa kontrak berakhir, pengelolaan dan pembiayaan operasional akan sepenuhnya diambil alih oleh pemerintah kota.

“Saat ini, dua koridor Bacitra memerlukan anggaran operasional sekitar Rp 11 miliar per koridor per tahun. Penambahan koridor baru akan berdampak langsung pada kebutuhan anggaran, di tengah kebijakan efisiensi fiskal nasional,” sebutnya.

Meski menghadapi tantangan pembiayaan, performa Bacitra sepanjang 2025 menunjukkan tren positif.

Tingkat keterisian penumpang atau load factor tercatat mencapai 117 persen. Angka itu menunjukkan lonjakan minat masyarakat terhadap layanan bus perkotaan tersebut.

Sebelumnya, Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud, dalam kegiatan Ekspose Akhir Tahun 2025 di hadapan ribuan ketua RT se-Balikpapan, menyampaikan bahwa grafik jumlah penumpang Bacitra menunjukkan kenaikan stabil sejak Agustus hingga November 2025, terutama pada Koridor A dan B.

Capaian load factor di atas 100 persen dipandang sebagai indikasi meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan transportasi publik.

Saat ini, sebanyak 19 armada aktif melayani tiga koridor strategis. Koridor A menghubungkan Pelabuhan Semayang dengan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan.

Koridor B dan C melayani kawasan Terminal Batu Ampar, Jalan MT Haryono, hingga Ahmad Yani. Untuk menjaga keandalan layanan, pemerintah kota juga menyiagakan dua unit bus cadangan.

Ke depan, Pemkot Balikpapan juga membuka peluang penggunaan armada berbasis energi baru dan terbarukan.

Fadli mengungkapkan bahwa rencana pengadaan delapan unit bus listrik sempat disiapkan pada 2025 melalui APBN, namun tertunda akibat keterbatasan anggaran dan kebijakan efisiensi.

“Mudah-mudahan tahun ini ada angin segar untuk pengadaan bus berbasis listrik atau hibrida,” ujarnya. (rd)

Editor : Romdani.
#penajam paser utara #Balikpapan City Trans #ibu kota nusantara #Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas ud #transportasi Balikpapan