Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Terinspirasi Pakan Orangutan, 11 Tanaman di Wehea-Kelay Punya Potensi Medisinal Jadi Obat Kanker dan Diabetes

Dina Angelina • Senin, 19 Januari 2026 | 18:34 WIB
TEMUAN: Peneliti YKAN, BRIN, dan Unmul menyampaikan kondisi status biodiversitas di bentang alam Wehea-Kelay.
TEMUAN: Peneliti YKAN, BRIN, dan Unmul menyampaikan kondisi status biodiversitas di bentang alam Wehea-Kelay.

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Kolaborasi Universitas Mulawarman, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) berhasil menemukan spesies langka di Bentang Alam Wehea-Kelay.

Direktur Eksekutif YKAN Herlina Hartanto mengatakan, inisiatif kolaborasi pengelolaan sumber daya alam di Bentang Alam Wehea-Kelay sudah berjalan sejak 2015. Kawasan ini mengikuti sebaran orangutan Kalimantan.

Dia menjelaskan terdapat sungai-sungai besar seperti Sungai Kelay, Sungai Wehea, dan sebagian kecil hulu Sungai Telen. Wehea-Kelay juga bagian hulu penting bagi Sungai Mahakam dan Sungai Segah.

“Lebih dari 5.000 kilometer daerah aliran sungai mengalir ke Kabupaten Berau dan Kutai Timur,” katanya. Wehea-Kelay memberikan jasa lingkungan seperti fungsi hidrologis dan udara bersih.

Sekitar 80 persen dari luas Wehea-Kelay masih berupa hutan yang berpotensi menyimpan 191 juta ton CO₂ equivalent. Ini tentu memiliki peran besar dalam mitigasi perubahan iklim.

Lebih satu dekade, Pemprov Kalimantan Timur bersama YKAN mengajak berbagai pihak untuk mengelola kawasan Wehea-Kelay. Termasuk penelitian kolaboratif yang berlangsung pada 2025.

“Studi terakhir menunjukkan ada penambahan temuan jenis flora dan fauna dari pendataan awal,” tuturnya. Dia meyakini pengelolaan kolaboratif di Wehea-Kelay telah memberikan dampak positif.

Baik untuk kepentingan ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya dapat jalan bersama-sama dengan menjaga nilai biodiversitas. “Salah satunya habitat orangutan yang berada di luar kawasan konservasi,” tuturnya.

Pengelolaan kolaboratif juga mencakup pemanfaatan hasil hutan bukan kayu melalui inovasi bioprospeksi. Pihaknya melakukan kajian terhadap 60 jenis tumbuhan hutan yang terinspirasi dari pakan orangutan.

Hasilnya terdapat 11 jenis tumbuhan berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai tinggi. Sebab terdapat kandungan fitokimia untuk kesehatan, antidiabetes, antikanker, dan sitotoksisitas.

“Jenis-jenis tumbuhan yang telah diteliti memiliki potensi medisinal,” sebutnya. Peluang besar untuk mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dengan mengoptimalkan potensi bioprospeksi.

Saat ini, pengelolaan Wehea-Kelay total melibatkan 23 pihak. Seperti pemerintah, dunia usaha, masyarakat, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan LSM seperti YKAN.

Sementara dari sektor swasta, mayoritas pemegang konsesi Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan-Hutan Alam (PBPH-HA). Mereka memiliki sertifikat Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Forest Stewardship Council (FSC).

Sedangkan Hutan Lindung Wehea dikelola Masyarakat Adat Wehea. Ini bukti komunitas lokal turut memiliki peran penting mendukung keberlangsungan pengelolaan kolaboratif. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
#orangutan #diabetes #tanaman #Wehea Kelay #Spesies Langka #obat kanker