KALTIMPOST.ID-Tekanan terhadap sektor pariwisata Kaltim mulai merembet ke industri perhotelan dan biro perjalanan.
Di tengah penurunan wisatawan asing dan minimnya promosi daerah, banyak agen wisata memilih menjual paket outbound ke luar negeri karena dinilai lebih mudah dan menguntungkan.
Kondisi itu menurut pemilik Trans Borneo Tours and Travel Joko Purwanto menjadi tantangan serius menjelang Ramadan, periode yang biasanya sepi perjalanan.
“Pasti akan turun lagi. Hotel sekarang saja sudah was-was, okupansi terus turun,” ucap ketua Badan Promosi Pariwisata Balikpapan itu.
Lebih lanjut, ia menyebut, salah satu masalah utama adalah mindset pelaku dan pemangku kebijakan yang masih terlalu bergantung pada pasar pemerintah dan perjalanan dinas.
Padahal, sektor wisata seharusnya menjadi target utama jika ingin pariwisata menjadi leading sector.
“Jangan hanya berpandangan ke market pemerintah. Harus market wisata. Kalau ada penerbangan luar negeri, ayo kita promosi rame-rame,” kata Joko.
Ia menjelaskan, bagi biro perjalanan, menjual paket outbound jauh lebih mudah. Dengan adanya penerbangan internasional, minat masyarakat untuk keluar negeri tinggi.
Sementara promosi tidak memerlukan biaya besar. “Posting-posting saja sudah banyak yang daftar,” ujarnya.
Sebaliknya, untuk mendatangkan wisatawan asing ke Kaltim, agen harus mengeluarkan modal promosi besar, sementara dukungan pemerintah hampir tidak ada. Kondisi itu membuat banyak agen memilih jalur yang lebih aman secara bisnis.
Meski demikian, Joko menyebut Trans Borneo Tours and Travel masih mampu menjaga stabilitas.
Hampir setiap bulan ada grup wisatawan yang masuk, terutama dari Asia seperti Jepang, Tiongkok, dan Taiwan. “Januari ini dari Jepang ada 60 orang. Rata-rata memang masih dari Asia,” sebutnya.
Ia menegaskan, tanpa perubahan strategi dan kolaborasi, risiko penurunan akan semakin besar.
“Promosi dan pameran itu kunci menjaga tamu tetap stabil. Kalau tidak, jangan heran kalau hotel makin banyak tutup,” pungkas Joko. (rd)
ULIL MUAWANAH
Editor : Romdani.