Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Inflasi Kaltim 2026 Diprakirakan Tetap Sasaran, BI Petakan Risiko Pangan hingga Global

Raden Roro Mira Budi Asih • Minggu, 25 Januari 2026 | 20:09 WIB

Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto.
Kepala KPw BI Kaltim Budi Widihartanto.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Tekanan inflasi Kalimantan Timur pada 2026 diprakirakan tetap berada dalam sasaran. Bank Indonesia menilai prospek inflasi masih terkendali, meski dihadapkan pada berbagai risiko dari sisi pangan, administered price, hingga ketidakpastian ekonomi global.

Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Kaltim 2026 tetap berada di sekitar target 2,5±1 persen. Proyeksi tersebut didukung oleh berlanjutnya upaya pengendalian inflasi oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di seluruh kabupaten dan kota.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kalimantan Timur Budi Widihartanto menyampaikan, tekanan inflasi dari sisi volatile food masih menjadi perhatian utama, seiring kondisi neraca pangan Kaltim yang masih defisit dan meningkatnya permintaan pangan.

Baca Juga: Sepanjang 2025 Inflasi Kaltim Tetap Terkendali, Pangan Masih Jadi Komoditas yang Perlu Diwaspadai

“Meski menemui sejumlah tantangan khususnya pada kelompok komoditas bahan makanan (volatile food), namun diprakirakan tekanan inflasi kaltim pada 2026 akan berada dalam range sasaran target.

Selain dari sisi bahan makanan, tantangan pengendalian inflasi Kaltim juga datang dari masih tingginya ketidakpastian ekonomi global yang berdampak pada volatilitas harga emas perhiasan dan bahan bakar," ujar Budi.

Dari sisi upside risk, potensi peningkatan tekanan inflasi dapat bersumber dari kenaikan permintaan pangan seiring pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan target penerima yang meningkat. Selain itu, perpindahan pekerja secara bertahap ke Ibu Kota Nusantara (IKN) juga berpotensi meningkatkan permintaan bahan pangan.

Baca Juga: Filosofi Satu Motif untuk Satu Pemilik, Strategi Azis Menjaga Eksklusivitas Borneo Batik

Risiko lainnya berasal dari faktor global, terutama potensi kebijakan suku bunga The Fed yang lebih ketat. Kondisi tersebut dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah dan meningkatkan biaya impor, yang berujung pada imported inflation. Tren kenaikan harga emas dunia di tengah ketidakpastian global juga menjadi faktor penekan.

Namun demikian, terdapat sejumlah downside risk yang berpotensi menahan laju inflasi. Di antaranya peningkatan produksi padi seiring penyelesaian program cetak sawah seluas 1.890 hektare pada 2026, serta peningkatan produktivitas pertanian melalui digital farming dan percepatan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (L2PB).

Selain itu, kebijakan pemerintah untuk menahan impor beras pada 2025 yang didukung program cetak sawah dan optimalisasi lahan 2025-2027 turut memperkuat pasokan pangan. BMKG juga memprakirakan kondisi ENSO tetap netral hingga awal 2026, dengan musim hujan yang datang lebih awal di sejumlah wilayah Indonesia.

“Meski menghadapi berbagai risiko, tekanan inflasi Kaltim diprakirakan tetap berada dalam sasaran dengan penguatan koordinasi pengendalian inflasi daerah,” pungkas Budi. (*/riz)

 

 

Editor : Muhammad Rizki
#Inflasi Kaltim #Bank Indonesia Kaltim