KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Awal tahun 2026 menjadi periode yang cukup menantang bagi sektor perhotelan di Balikpapan.
Setelah hiruk-pikuk aktivitas ekonomi di penghujung 2025, pergerakan bisnis kembali melambat. Perayaan HUT ke-129 Kota Beriman diharapkan memberi angin segar.
Tingkat hunian hotel di Balikpapan pada Januari tercatat nyaris tidak bergerak dibandingkan periode yang sama tahun lalu, bahkan cenderung stagnan akibat masih berjalannya pengetatan anggaran.
Kondisi tersebut dipengaruhi berkurangnya kegiatan yang bersumber dari anggaran pemerintah pusat maupun daerah.
"Sejumlah agenda yang biasanya mendorong pergerakan tamu hotel belum terlihat di awal tahun ini. Selain itu, sektor korporasi dan penyelenggara event juga masih menahan aktivitas setelah padatnya agenda pada Desember," kata Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Balikpapan Soegianto, Senin (9/2).
Ia menjelaskan, Januari memang selalu menjadi masa transisi, namun tahun ini terasa lebih berat karena kebijakan pengetatan anggaran masih berlangsung.
Ia mengatakan, tingkat hunian hotel di awal 2026 masih berada di kisaran 30 hingga 40 persen, sehingga belum cukup untuk mendorong perbaikan pendapatan secara signifikan.
Situasi ini diperkirakan berlanjut hingga Februari, terlebih dengan masuknya bulan puasa yang hampir menghentikan seluruh kegiatan pemerintahan.
"Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha perhotelan mulai mengalihkan fokus pada strategi bertahan, salah satunya mengandalkan paket berbuka puasa sebagai sumber pendapatan alternatif untuk menutup kekurangan dari penjualan kamar dan event," bebernya.
Di tengah tekanan tersebut, peringatan HUT Balikpapan ke-129 yang jatuh pada awal 2026 menjadi salah satu harapan bagi industri perhotelan.
Soegianto menyebutkan bahwa rangkaian kegiatan peringatan hari jadi kota berpotensi menghadirkan kembali aktivitas pemerintah, komunitas, maupun masyarakat yang dapat menggerakkan sektor jasa dan pariwisata.
Menurutnya, apabila perayaan HUT Balikpapan dikemas dengan berbagai kegiatan skala kota, hal ini dapat menjadi momentum awal untuk memulihkan okupansi hotel sebelum memasuki kuartal kedua.
Ia menegaskan hingga saat ini pelaku usaha perhotelan masih berupaya bertahan tanpa melakukan pemutusan hubungan kerja, sembari menunggu pergerakan ekonomi yang diharapkan mulai menggeliat setelah April 2026.
"Kami berharap roda ekonomi lokal dapat kembali berputar dan memberi napas segar setelah lesunya kegiatan awal tahun," ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo