Pernyataan itu disampaikan Netanyahu dalam keterangan yang dikutip sejumlah media internasional. Ia mengklaim terdapat tanda-tanda yang menunjukkan Khamenei tidak lagi hidup, meski tidak memberikan konfirmasi resmi mengenai kematian pemimpin Iran tersebut.
Pemerintah Iran segera membantah klaim tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, menegaskan kondisi pemimpin tertinggi negaranya dalam keadaan aman dan sehat. Ia menyebut isu yang beredar sebagai informasi yang tidak benar sekaligus memastikan stabilitas kepemimpinan nasional tetap terjaga.
Di tengah spekulasi yang berkembang, sosok Khamenei kembali menjadi sorotan. Perannya selama puluhan tahun dinilai sangat dominan dalam sistem politik Republik Islam Iran, bahkan berada di atas otoritas presiden Iran saat ini, Masoud Pezeshkian.
Dari Kota Suci Mashhad ke Lingkaran Revolusi
Ali Khamenei lahir pada April 1939 di Mashhad, salah satu kota suci utama bagi umat Syiah. Ia berasal dari keluarga ulama sederhana. Ayahnya, Seyyed Javad Khamenei, dikenal menjalani kehidupan asketis dan jauh dari kemewahan.
Sejak usia muda, Khamenei menempuh pendidikan agama. Setelah belajar di kampung halamannya, ia melanjutkan studi ke Qom, pusat pendidikan ulama Syiah di Iran.
Di kota inilah ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh revolusi, termasuk Ruhollah Khomeini dan Akbar Hashemi Rafsanjani.
Pemikiran Khomeini tentang konsep pemerintahan Islam membentuk arah politik Khamenei. Ia kemudian aktif dalam gerakan oposisi terhadap monarki Pahlavi pada dekade 1960–1970-an.
Aktivitas tersebut membuatnya berulang kali ditangkap, dipenjara, hingga diasingkan oleh rezim Shah Iran.
Selain sebagai aktivis, Khamenei juga dikenal sebagai penerjemah karya-karya pemikiran Islam politik yang berperan memperluas pengaruh ideologi revolusi di kalangan ulama muda.
Naik Cepat Pasca Revolusi 1979
Setelah Revolusi Islam Iran tahun 1979 menggulingkan monarki, Khamenei segera masuk dalam struktur kekuasaan baru. Ia menjadi anggota Dewan Revolusi dan terlibat dalam restrukturisasi militer nasional, termasuk penguatan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC).
Kedekatannya dengan Khomeini membuatnya berada di lingkaran inti pengambil keputusan negara.
Pada 1981, ia selamat dari percobaan pembunuhan saat berpidato di Masjid Abuzar, Teheran. Bom yang disembunyikan dalam pemutar kaset meledak dan menyebabkan lengan kanannya lumpuh permanen. Peristiwa tersebut memperkuat citra dirinya sebagai figur revolusioner yang berkorban bagi perjuangan.
Masih di tahun yang sama, setelah Presiden Mohammad Ali Rajaei tewas akibat pembunuhan, Khamenei terpilih menjadi Presiden Iran dan menjabat selama dua periode hingga 1989. Masa pemerintahannya berlangsung di tengah Perang Iran–Irak.
Walaupun kewenangan presiden terbatas, ia memanfaatkan posisi tersebut untuk membangun jaringan kuat dengan elite keamanan dan komandan IRGC—basis kekuatan yang kemudian menopang karier politiknya.
Jalan Menuju Pemimpin Tertinggi
Wafatnya Khomeini pada Juni 1989 memicu krisis suksesi nasional. Konstitusi Iran saat itu mensyaratkan pemimpin tertinggi harus berstatus marja taklid, tingkat otoritas keagamaan tertinggi yang belum dimiliki Khamenei.
Namun melalui sidang darurat Majelis Ahli serta dukungan politik Rafsanjani, Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin sementara. Beberapa bulan kemudian, konstitusi direvisi dan persyaratan tersebut dihapus.
Pada November 1989, ia resmi diangkat sebagai Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran.
Sejak saat itu, kekuasaan negara secara bertahap terpusat di tangannya. Lembaga penting seperti peradilan, Dewan Garda, media negara, hingga Dewan Keamanan Nasional berada di bawah pengaruh langsungnya. IRGC pun berkembang menjadi kekuatan dominan tidak hanya di bidang militer, tetapi juga politik dan ekonomi.
Strategi Regional dan Ketegangan Global
Dalam kebijakan luar negeri, Khamenei dikenal sebagai arsitek strategi “Poros Perlawanan” yang ditujukan menghadapi pengaruh Amerika Serikat dan Israel di Timur Tengah. Iran memperluas pengaruhnya melalui dukungan kepada Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, milisi Syiah di Irak, kelompok Houthi di Yaman, serta pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.
Namun pada periode 2024–2025, jaringan tersebut mengalami tekanan berat akibat operasi militer Israel dan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Khamenei juga mendorong kebijakan “melihat ke Timur”, mempererat hubungan strategis dengan Rusia dan Tiongkok, yang semakin menjauhkan Iran dari negara-negara Barat.
Kebijakan Dalam Negeri dan Gelombang Protes
Di dalam negeri, berbagai gelombang demonstrasi—mulai dari Gerakan Hijau 2009 hingga protes besar pada 2017, 2019, dan 2022—ditangani dengan pendekatan keamanan ketat. Khamenei secara konsisten menilai aksi-aksi tersebut sebagai bagian dari campur tangan asing.
Situasi memuncak pada Januari 2026 ketika demonstrasi nasional berujung operasi keamanan besar-besaran. Sejumlah laporan menyebut korban jiwa mencapai ribuan hingga puluhan ribu orang.
Iran di Persimpangan Jika Khamenei Wafat
Apabila kabar kematian Khamenei benar terjadi, Iran diperkirakan menghadapi ujian politik terbesar sejak era Khomeini. Sistem pemerintahan yang selama lebih dari tiga dekade berpusat pada satu figur akan memasuki fase transisi yang penuh ketidakpastian.
Apakah situasi tersebut membuka peluang perubahan politik atau justru memicu krisis baru, masih menjadi pertanyaan besar hingga kepastian kondisi Khamenei benar-benar terungkap.
Editor : Uways Alqadrie