“Ya Allah… sudah cukup, saya tidak kuat melihatnya,” ujar Habiburokhman saat rapat yang menghadirkan keluarga korban, kuasa hukum, serta Kapolres Sukabumi, Senin (2/3/2026).
Video tersebut memperlihatkan kondisi terakhir korban NS (12) sebelum meninggal dunia. Rekaman itu diputar untuk menggambarkan kondisi korban yang diduga mengalami kekerasan berat sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.
Dalam forum tersebut, kuasa hukum ibu kandung korban, Mira Widyawati, menjelaskan video itu direkam di rumah sekitar pertengahan Februari. Rekaman tersebut diketahui dibuat oleh ibu tiri korban.
Menurut Mira, setelah direkam, video tersebut dikirim oleh ibu tiri kepada suaminya yang merupakan ayah kandung korban. Selanjutnya rekaman itu diteruskan kepada ibu kandung korban sebagai bukti kondisi anaknya.
“Yang merekam adalah ibu tirinya, lalu dikirimkan ke suaminya, dan dari ayah korban diteruskan kepada ibu kandungnya,” jelas Mira dalam rapat.
Korban diketahui merupakan pelajar SMP dari Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. NS meninggal dunia setelah mengalami luka bakar serius di beberapa bagian tubuh.
Sebelum meninggal dunia di RSUD Jampang Kulon, korban sempat menyampaikan cerita kepada ayahnya dan sejumlah kerabat mengenai kejadian yang dialaminya.
Ayah korban, Anwar Satibi (38), mengaku sangat terpukul atas peristiwa yang merenggut nyawa putranya. Ia mengungkapkan bahwa anaknya memiliki cita-cita menjadi seorang kiai.
“Anak saya ingin sekali jadi kiai. Waktu terakhir saya pulang dari Sukabumi, saya beri uang Rp50 ribu untuk bekal di pesantren. Dia senang sekali,” tutur Anwar saat ditemui di RS Bhayangkara Setukpa Polri, Jumat (20/2/2026).
Pengakuan Korban Sebelum Meninggal
Berdasarkan keterangan keluarga, korban sempat mengaku dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya. Pengakuan tersebut disampaikan korban ketika masih sadar di rumah sakit.
Salah satu kerabat yang mendampingi korban di instalasi gawat darurat (IGD), Haji Isep, mengatakan pengakuan tersebut disampaikan langsung oleh korban sebelum kondisinya memburuk.
“Almarhum sendiri yang bilang kalau itu dilakukan oleh mama tirinya. Ada rekaman videonya juga,” ujar Isep.
Hasil Autopsi
Kepala RS Bhayangkara Setukpa Lemdiklat Polri, Kombes Pol dr. Carles Siagian, mengungkapkan hasil pemeriksaan forensik menemukan sejumlah luka bakar di tubuh korban.
Luka tersebut ditemukan di bagian lengan, kaki, dan punggung. Selain itu, tim dokter juga mendapati luka bakar pada area bibir serta hidung korban.
“Paru-paru korban juga ditemukan sedikit mengalami pembengkakan. Sampel organ sudah kami kirim ke laboratorium di Jakarta untuk memastikan ada atau tidaknya zat berbahaya dalam tubuh korban,” terang dr. Carles.
Ia menambahkan, luka di area bibir dan hidung berkaitan dengan dugaan paparan cairan panas yang sebelumnya diceritakan korban kepada keluarga.
Kronologi Dugaan Penyiksaan
Berikut rangkaian kejadian yang terungkap dari keterangan keluarga dan pihak terkait:
Pertengahan Februari 2026
Korban diduga mengalami kekerasan di rumahnya di Kampung Cimandala, Desa Cipeundeuy, Kecamatan Surade, Sukabumi.
Korban dipaksa meminum air panas
Berdasarkan pengakuan korban kepada keluarga, ia dipaksa meminum air panas oleh ibu tirinya.
Kondisi korban direkam
Ibu tiri korban merekam kondisi NS yang sudah mengalami luka dan kemudian mengirimkan video tersebut kepada ayah korban.
Video diteruskan ke ibu kandung
Ayah korban kemudian meneruskan rekaman tersebut kepada ibu kandung korban.
Korban dilarikan ke rumah sakit
Setelah kondisinya memburuk, korban dibawa ke RSUD Jampang Kulon untuk mendapatkan perawatan medis.
Korban meninggal dunia
Meski sempat mendapatkan penanganan medis, korban akhirnya meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya.
Editor : Uways Alqadrie