KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Awal 2026 menjadi catatan kurang menggembirakan bagi kinerja perdagangan luar negeri Bumi Etam. Nilai ekspor terkontraksi cukup dalam pada Januari 2026, bahkan susut lebih dari sepertiga dibandingkan bulan sebelumnya.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai mengungkapkan, total nilai ekspor pada Januari 2026 tercatat sebesar USD1.585,06 juta. Angka tersebut turun 31,25 persen dibandingkan Desember 2025 yang mencapai USD2.305,59 juta.
Penurunan terjadi baik pada sektor migas maupun nonmigas. Untuk komoditas migas, nilainya tercatat senilai USD115,94 juta. Angka itu jauh lebih rendah dibandingkan Desember 2025 yang mencapai USD264,91 juta.
Baca Juga: Lonjakan Akhir Tahun Dongkrak Ekspor Kaltim Hingga 36,77 Persen, Sektor Ini Paling Signifikan
“Penurunan nilai ekspor disebabkan karena turunnya nilai ekspor migas dan nonmigas masing-masing 56,23 persen dan 28,01 persen,” terangnya.
Sementara itu, ekspor nonmigas pada Januari 2026 berada di angka USD1.469,12 juta, turun dari USD2.040,68 juta pada bulan sebelumnya. Artinya, pelemahan tidak hanya terjadi pada komoditas energi, tetapi juga sektor nonmigas yang selama ini menjadi penopang utama ekspor Kaltim.
Mas’ud memaparkan, tekanan paling besar pada sektor migas berasal dari gas alam. Nilai ekspor gas merosot sangat tajam hingga 80,01 persen. Jika pada Desember 2025 nilainya masih USD190,71 juta, maka pada Januari 2026 tinggal USD38,13 juta.
Baca Juga: Ancaman Inflasi Mengintai di Tengah Defisit Beras Kaltim
Di sisi lain, ekspor hasil minyak justru menunjukkan kenaikan tipis. Nilainya meningkat 4,87 persen dari USD74,20 juta pada Desember 2025 menjadi USD77,81 juta pada Januari 2026. Namun kenaikan tersebut belum mampu menutup penurunan drastis pada komoditas gas.
Secara tahunan, kinerja ekspor Kaltim juga masih berada di zona negatif. Jika dibandingkan Januari 2025 yang sebesar USD1.678,22 juta, nilai ekspor Januari 2026 turun 5,55 persen. (*/riz)
Editor : Muhammad Rizki