KALTIMPOST.ID, SKOPJE-Sekretaris Jenderal North Atlantic Treaty Organization (NATO), Mark Rutte, menyatakan secara tegas bahwa aliansi pertahanan atletik utara tersebut tidak mengambil bagian dalam eskalasi militer terbaru yang mengguncang Timur Tengah.
Pernyataan ini disampaikan Rutte dalam konferensi pers bersama Presiden Makedonia Utara, Gordana Siljanovska-Davkova, di Skopje, Selasa (3/3).
Meskipun memastikan NATO tidak terlibat langsung, Rutte memberikan peringatan serius mengenai ambisi militer Teheran.
Ia menilai kemajuan teknologi nuklir dan rudal balistik Iran kini tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga telah menjadi ancaman nyata bagi keamanan daratan Eropa.
Iran Disebut Sebagai Pemicu Instabilitas
Baca Juga: Serangan Udara Hantam Basis Militer Pro-Iran di Irak Selatan, Dilaporkan Hanya Rusak Fasilitas
Dalam laporannya yang dikutip via TRT, Rutte melayangkan kritik tajam dengan menjuluki Iran sebagai "pengekspor kekacauan."
Ia menuding Teheran berada di balik serangkaian operasi teror dan upaya pembunuhan di kancah internasional selama beberapa dekade terakhir.
Situasi di kawasan tersebut memang mencapai titik didih pasca serangan masif yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada Sabtu (28/2).
Insiden berdarah itu dilaporkan merenggut hampir 800 nyawa, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal ke arah Israel serta sejumlah negara Teluk yang menampung basis militer AS.
Desakan Penambahan Anggaran Militer
Di tengah situasi global yang kian memanas, Rutte mengimbau seluruh anggota NATO untuk tidak terlena. Ia mendesak negara-negara sekutu untuk meningkatkan belanja pertahanan guna memperkuat kapasitas produksi militer.
Baca Juga: Stasiun CIA di Arab Saudi Dihantam Drone Milik Iran
Kemudian, mempercepat realisasi target kemampuan aliansi demi mendukung misi-misi strategis. Melihat investasi militer sebagai peluang ekonomi, karena dianggap mampu menciptakan lapangan kerja dan memicu pertumbuhan.
Stabilitas Balkan dan Misi KFOR
Selain isu Timur Tengah, Rutte juga menyinggung peran penting pasukan perdamaian KFOR di Kosovo. Ia menjamin NATO akan terus memperkuat misi tersebut demi menjaga stabilitas jangka panjang di wilayah Balkan.
Senada dengan hal itu, Presiden Gordana Siljanovska-Davkova menegaskan bahwa integrasi negara-negara Balkan Barat ke dalam Uni Eropa adalah langkah investasi keamanan paling vital bagi stabilitas Eropa secara menyeluruh.(*)
Editor : Almasrifah