KALTIMPOST.ID, JAKARTA-Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berdampak pada operasional energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping saat ini tertahan di Selat Hormuz menyusul penutupan jalur tersebut oleh otoritas Iran.
Bahlil menegaskan bahwa langkah diplomasi menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. Upaya negosiasi sedang diupayakan agar kedua aset negara tersebut dapat segera keluar dari zona merah dengan cara yang aman.
"Kami sedang mengupayakan langkah diplomasi agar ada solusi terbaik supaya kapal-kapal tersebut bisa segera dikeluarkan," jelas Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, dikutip Rabu (4/3/2026).
Mitigasi Gangguan Pasokan Minyak
Baca Juga: NATO Tegaskan Tak Terlibat Konflik Iran, Mark Rutte Soroti Ancaman Rudal Teheran ke Eropa
Menyadari potensi risiko terhadap ketahanan energi dalam negeri, pemerintah telah menyiapkan skenario terburuk.
Jika Selat Hormuz tetap tidak bisa dilalui dalam waktu lama, Bahlil memastikan Indonesia sudah mengamankan sumber pasokan minyak mentah (crude) dari wilayah lain di luar jalur tersebut.
"Seandainya (kapal) tidak bisa keluar, kami sudah mengamankan sumber alternatif dari tempat lain. Jadi, meski ini merupakan kendala operasional, saya rasa ini bukan masalah yang akan mengganggu stabilitas pasokan kita secara fundamental," tambah Bahlil optimistis.
Kondisi Awak Kapal Dipastikan Aman
Di sisi lain, PT Pertamina (Persero) terus memantau kondisi personel dan aset mereka. Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, memberikan kepastian bahwa seluruh kru kapal dalam keadaan selamat.
Baca Juga: Serangan Udara Hantam Basis Militer Pro-Iran di Irak Selatan, Dilaporkan Hanya Rusak Fasilitas
Penutupan Selat Hormuz sendiri merupakan imbas dari serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran. Situasi ini membuat kapal-kapal yang melintas berada dalam bayang-bayang ancaman militer.
Jumlah armada yang ada di kawasan itu awalnya terdapat empat kapal tanker di sekitar kawasan tersebut, namun dua di antaranya sudah berhasil berada di luar Selat Hormuz sebelum situasi memburuk.
Saat ini, Pertamina memprioritaskan keamanan nyawa para awak kapal dan perlindungan aset fisik tanker.
Pertamina juga terus berkoordinasi intensif dengan Kementerian Luar Negeri serta pemangku kepentingan terkait guna mengamankan posisi kapal yang masih terjebak.
"Fokus utama kami saat ini adalah memastikan keselamatan seluruh kawan-kawan pelaut di sana serta menjaga kondisi aset kapal kami tetap aman di tengah situasi yang dinamis ini," kata Baron di Kantor Pusat Pertamina. (*)
Editor : Almasrifah