Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Warga Lebanon Murka pada Hezbollah Usai Serangan Israel, Konflik Iran-Israel Meluas ke Beirut

Uways Alqadrie • Sabtu, 7 Maret 2026 | 04:04 WIB

Sejumlah warga sipil mengungsi menggunakan mobil dari wilayah selatan Lebanon setelah meningkatnya serangan udara Israel. (Foto AP)
Sejumlah warga sipil mengungsi menggunakan mobil dari wilayah selatan Lebanon setelah meningkatnya serangan udara Israel. (Foto AP)
KALTIMPOST.ID, BEIRUT – Ketegangan di Lebanon semakin meningkat setelah serangkaian serangan militer Israel menghantam wilayah selatan dan pinggiran Beirut dalam beberapa hari terakhir. Situasi ini memicu gelombang kemarahan publik terhadap kelompok militan Hezbollah yang dianggap menyeret negara itu ke dalam konflik yang lebih luas.

Serangan Israel menargetkan kawasan padat penduduk di Dahiyeh, Beirut selatan, yang dikenal sebagai basis kuat Hizbullah. Militer Israel sebelumnya telah memperingatkan warga untuk segera meninggalkan daerah tersebut demi keselamatan.

Akibat serangan tersebut, ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya terluka, sementara puluhan ribu warga terpaksa mengungsi.

Eskalasi konflik ini bermula ketika Hizbullah meluncurkan serangan roket ke wilayah Israel pada awal pekan. Serangan itu disebut sebagai bentuk balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei. Israel kemudian merespons dengan operasi militer besar-besaran yang memperluas konflik hingga wilayah Lebanon.

Pemerintah Lebanon sendiri mengecam tindakan Hizbullah tersebut. Menteri Kehakiman Lebanon, Adel Nassar, menilai keputusan kelompok itu menembakkan roket ke Israel sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab. Menurutnya, langkah tersebut justru memberi alasan bagi Israel untuk melancarkan serangan yang lebih luas.

Di tengah situasi yang semakin memanas, pemimpin Hizbullah Naim Qassem tetap menegaskan bahwa kelompoknya akan terus melawan Israel. Ia menyebut perlawanan terhadap apa yang disebutnya sebagai agresi Israel dan Amerika Serikat sebagai hak yang sah.

Sementara itu, analis politik menilai strategi Hizbullah saat ini berisiko besar bagi Lebanon. Peneliti dari Sciences Po, Karim El Mufti, mengatakan langkah tersebut dapat merugikan kelompok itu sendiri dan semakin mengisolasinya dari dukungan publik.

Penolakan terhadap Hizbullah juga mulai terlihat dari kalangan politik dalam negeri. Bahkan sekutu lama mereka di parlemen, yang dipimpin Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri, disebut ikut mendukung keputusan pemerintah untuk membatasi aktivitas militer kelompok tersebut.

Di sisi lain, warga sipil menjadi pihak yang paling merasakan dampak konflik. Ribuan keluarga dari wilayah selatan Lebanon kini mengungsi ke Beirut dan kota-kota lain setelah rumah mereka hancur akibat serangan udara. Banyak dari mereka terpaksa tidur di mobil atau bangunan darurat karena tidak memiliki tempat tinggal.

Pengamat politik dari Institut Negara-Negara Teluk Arab, Hussein Ibish, menyebut tingkat kemarahan publik terhadap Hizbullah saat ini sebagai yang terbesar sejak kelompok tersebut berdiri pada 1982. Menurutnya, banyak warga Lebanon menilai kelompok itu telah bertindak ceroboh dengan menyeret negara ke dalam perang yang sebenarnya tidak mampu mereka tanggung.

Editor : Uways Alqadrie
#Perang Iran Amerika #hizbullah #hizbullah serang israel #Israel #lebanon