KALTIMPOST.ID – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak pada industri perjalanan ibadah. Bukan pada keberangkatan yang sudah terjadwal, melainkan pada minat masyarakat untuk mendaftar umrah baru.
Dalam beberapa waktu terakhir terjadi penurunan jumlah pendaftaran jamaah umrah baru di sejumlah biro perjalanan. Dijelaskan Direktur Pengembangan Bisnis NRA Group Muhammad Atsiir Abdul Azis, kondisi tersebut dipicu kekhawatiran masyarakat terhadap situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
“Memang kalau secara inputnya saat ini kita lagi berkurang. Karena yang kita khawatirkan kalau misalnya Arab Saudi ini total permanen dia tutup semuanya, maka ini bisa seperti waktu Covid,” kata Atsiir.
Dia menjelaskan, fenomena keraguan jamaah sebenarnya muncul setelah adanya imbauan dari Wakil Menteri Haji dan Umrah Arab Saudi beberapa hari lalu.
Dalam video yang beredar di media sosial, jamaah yang akan berangkat dalam waktu dekat diminta mempertimbangkan penundaan perjalanan apabila penerbangannya terdampak.
Imbauan tersebut, lanjutnya, memicu kebingungan di kalangan jamaah karena tidak semua penerbangan terdampak penutupan rute.
“Yang ditunda ini sebetulnya untuk penerbangan yang memang ditunda. Tapi seperti Garuda Indonesia itu kan memang masih berjalan dan tidak ada penundaan,” jelasnya.
Akibat situasi tersebut, sebagian jamaah yang sudah merencanakan perjalanan memilih untuk menunda keberangkatan mereka. Pihak NRA tidak melarang jamaah yang ingin menunda perjalanan. Namun dia mengingatkan bahwa keputusan tersebut memiliki konsekuensi biaya tambahan dari maskapai.
Kekhawatiran tersebut juga terlihat dari perilaku calon jamaah baru yang memilih menunggu perkembangan situasi sebelum melakukan pemesanan paket perjalanan.
Lebih jauh, Atsiir mengatakan industri perjalanan ibadah sebenarnya memiliki pengalaman menghadapi penutupan total seperti saat pandemi Covid-19. Namun situasi akibat konflik geopolitik masih menjadi hal baru bagi pelaku usaha.
Karena itu, asosiasi penyelenggara umrah dan haji salah satunya Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) bersama pemerintah mulai menyiapkan langkah antisipasi apabila situasi memburuk.
“Kementerian Haji kemarin sudah sempat panggil kita dua hari yang lalu untuk menampung aspirasi dan masukan,” katanya dikonfirmasi Kamis (5/3).
Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi pembatalan perjalanan pada periode setelah Ramadan, khususnya bulan Syawal yang biasanya dipadati jamaah dari Indonesia. Menurut Atsiir, jumlah jamaah Indonesia yang telah merencanakan perjalanan umrah pada periode tersebut cukup besar.
“Sekitar 15 ribu jamaah Indonesia itu rencananya akan berangkat di bulan Syawal. Ini sedang kita siapkan plan-nya seperti apa kalau memang nanti terjadi pembatalan,” jelasnya.
Dia berharap konflik yang terjadi tidak berlangsung lama agar industri perjalanan ibadah tetap dapat berjalan normal. “Kita khawatir kalau krisisnya berjalan lebih panjang maka kepanikan jamaah akan semakin tinggi,” pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo