Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Ambisi Trump "Impor" Strategi Venezuela ke Iran Diragukan, Pakar: Teheran Bukan Karakas!

Ari Arief • Senin, 9 Maret 2026 | 18:21 WIB

Presiden AS, Donald Trump.
Presiden AS, Donald Trump.

KALTIMPOST.ID,WASHINGTON-Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali memicu perdebatan global setelah menyatakan niatnya untuk ikut campur dalam penentuan pemimpin baru Iran.

Trump berambisi menerapkan strategi "pengambilalihan rezim" yang diklaim sukses di Venezuela pasca-tumbangnya Nicolas Maduro.

Namun, sejumlah analis internasional memperingatkan bahwa Teheran adalah "medan" yang jauh berbeda dan lebih berbahaya.

Ambisi ini mencuat menyusul laporan wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, dalam operasi militer gabungan AS-Israel.

Dalam wawancaranya dengan Axios, Trump secara terang-terangan ingin memasang sosok pemimpin di Iran layaknya keberhasilan Washington mendukung Delcy Rodriguez sebagai pengganti Maduro di Venezuela pada Januari lalu.

Baca Juga: Intelijen AS Endus Campur Tangan Rusia, Moskow Diduga Pasok Data Penargetan ke Iran

"Saya harus terlibat dalam penunjukan penggantinya, seperti yang terjadi dengan Delcy di Venezuela," ujar Trump, yang menyebut skenario di Venezuela sebagai operasi yang sempurna.

Strategi "Potong Kepala"

Pejabat Departemen Luar Negeri AS menggambarkan pendekatan ini sebagai strategi “decapitate and delegate” atau "tebas dan delegasikan".

Intinya, AS menyingkirkan pemimpin tertinggi melalui operasi militer, lalu menyerahkan pengelolaan negara kepada aktor lokal yang bersedia bekerja sama dengan Washington tanpa harus menempatkan pasukan besar di lapangan.

Di Venezuela, strategi ini dianggap berhasil karena tidak memakan korban di pihak militer AS dan membuka kembali akses sumber daya alam bagi negeri Paman Sam tersebut.

Iran Bukan Venezuela

Baca Juga: Gila Obok-obok Negara Orang! Trump Sebut Kuba Target Berikutnya Setelah Iran

Namun, para pakar menilai optimisme Trump terlalu dini. Benjamin Gedan, pakar Amerika Latin dari Stimson Center, menyebut gagasan bahwa AS bisa memasang pemimpin "boneka" di mana pun kapal induk mereka berlabuh sebagai hal yang konyol.

"Iran memiliki sejarah panjang perlawanan terhadap campur tangan asing. Sentimen anti-AS sudah mendarah daging sejak Revolusi 1979," jelas Gedan. Menurutnya, Iran memiliki ideologi politik yang jauh lebih kompleks dan berakar dibandingkan Venezuela.

Senada, Alex Vatanka dari Middle East Institute menilai langkah Trump tidak realistis. Di Iran, siapa pun pejabat yang terlihat mencoba bekerja sama dengan AS berisiko tinggi menghadapi hukuman mati dari faksi internal yang sangat anti-Barat.

Baca Juga: Situasi Iran Memanas, 32 WNI Mulai Dievakuasi via Azerbaijan

"Dalam situasi konflik saat ini, siapa pun yang menyarankan kerja sama dengan AS bisa saja terbunuh keesokan harinya," tegas Vatanka.

Risiko Perlawanan Rakyat

Analis dari International Crisis Group, Naysan Rafati, menambahkan bahwa tantangan AS bukan hanya mencari tokoh di dalam rezim Iran yang mau diajak kompromi, tapi juga menghadapi kemarahan rakyat.

Jika AS hanya mengganti orang tanpa mengubah sistem pemerintahan yang dianggap represif, ketidakpuasan masyarakat Iran bisa meledak kembali.

Sementara itu, di Venezuela sendiri, stabilitas pemerintahan baru dukungan AS masih diuji.

Para ahli memperingatkan bahwa jika perhatian Washington beralih ke Timur Tengah, rezim di Karakas bisa saja kembali berbalik arah.

Baca Juga: Misteri Kambing Pulau Santa Barbara, Tak Pernah Minum Air Tawar, Tapi Tetap Sehat dan Beranak Pinak

"Rencana mereka (aktor lokal) bukan menjadi rezim boneka selamanya. Mereka hanya berharap perhatian AS segera berpindah ke tempat lain," kata Gedan. (*)

Editor : Dwi Puspitarini
#KARAKAS #Teheran #konyol #iran #donald trump #sentimen #venezuela