Banyak warga memilih berlindung di bunker bawah tanah, membuat sebagian ruas jalan di kota terbesar kedua di Israel itu terlihat sepi dan nyaris tanpa aktivitas.
Rekaman gambar serta video yang beredar di media sosial memperlihatkan beberapa bangunan mengalami kerusakan cukup parah.
Puing-puing terlihat berserakan di sejumlah lokasi setelah ledakan yang terjadi menyusul serangan rudal. Beberapa bagian gedung dilaporkan runtuh, sementara lingkungan di sekitarnya juga terdampak oleh gelombang ledakan.
Kondisi tersebut membuat sebagian kawasan Tel Aviv tampak lengang. Aktivitas warga menurun drastis karena banyak orang memilih tetap berada di tempat perlindungan untuk menghindari ancaman serangan lanjutan.
Di tengah situasi itu, muncul pula tudingan bahwa pemerintah Israel membatasi penyebaran informasi terkait tingkat kerusakan yang terjadi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu disebut-sebut menginstruksikan sejumlah pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan informasi mengenai kondisi di dalam negeri.
Meski demikian, berbagai gambar yang beredar di internet tetap memicu perdebatan mengenai situasi sebenarnya di Tel Aviv. Beberapa pihak menilai kerusakan yang terjadi cukup luas, sementara pihak lain menilai informasi yang beredar masih perlu diverifikasi.
Komando Pertahanan Dalam Negeri IDF menyatakan kebijakan darurat nasional akan terus diterapkan setidaknya sampai akhir pekan.
Penilaian situasi keamanan baru dijadwalkan dilakukan kembali pada Sabtu malam waktu setempat untuk menentukan apakah aturan tersebut dapat dilonggarkan atau masih harus diperpanjang.
Akibat kebijakan ini, rencana pemerintah untuk membuka kembali sekolah terpaksa ditunda. Menteri Pendidikan Israel, Yoav Kisch, sebelumnya sempat mengumumkan bahwa kegiatan belajar mengajar akan kembali berjalan secara bertahap. Namun keputusan tersebut dibatalkan setelah mempertimbangkan laporan terbaru dari militer.
Dalam aturan yang berlaku saat ini, kegiatan pendidikan di seluruh negeri masih dihentikan kecuali beberapa aktivitas terbatas. Sekolah hanya diperbolehkan beroperasi secara daring, sementara pembelajaran tatap muka belum diizinkan karena alasan keselamatan.
Selain itu, pemerintah juga membatasi kegiatan masyarakat. Pertemuan publik diperbolehkan dengan jumlah maksimal sekitar 50 orang dengan syarat lokasi memiliki akses cepat menuju tempat perlindungan apabila terjadi serangan udara.
Sementara itu, aktivitas perkantoran masih diizinkan berjalan dengan ketentuan serupa, yakni harus berada di area yang memiliki fasilitas perlindungan darurat.
Pemerintah Israel juga menerapkan sistem klasifikasi tingkat ancaman untuk menentukan wilayah mana yang dapat melonggarkan pembatasan. Dalam skema tersebut, daerah dengan risiko lebih rendah akan diberi status “kuning” sehingga sebagian kegiatan, termasuk sekolah, dapat dibuka kembali.
Namun hingga saat ini, hampir seluruh wilayah Israel masih berada dalam kategori “oranye” atau tingkat risiko tinggi. Status tersebut diperkirakan tetap berlaku sampai evaluasi keamanan berikutnya diumumkan oleh otoritas militer.
Editor : Uways Alqadrie