KALTIMPOST.ID,TEHERAN-Kabar simpang siur mengenai kondisi kesehatan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, akhirnya dikonfirmasi secara resmi oleh otoritas Teheran.
Putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut dinyatakan dalam kondisi stabil meskipun menderita luka-luka akibat eskalasi konflik yang memanas belakangan ini.
Kepastian ini disampaikan langsung oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, dalam sesi wawancara dengan media Italia, Corriere della Sera. Baghaei mematahkan berbagai spekulasi liar yang berkembang di kancah internasional.
"Dia (Mojtaba) memang mengalami luka, namun kondisinya saat ini baik," tegas Baghaei.
Meski demikian, pihak kementerian belum bisa membeberkan jadwal pasti kapan Mojtaba akan tampil perdana di hadapan publik untuk menyampaikan pidato resminya.
Proses Suksesi di Tengah Duka
Baca Juga: Trump Ngamuk Iran Pasang Ranjau di Selat Hormuz, Militer AS Langsung Hancurkan
Penunjukan Mojtaba sebagai nakhoda baru Iran pada Senin (9/3/2026) lalu disebut melalui proses yang cukup dinamis. Baghaei mengungkapkan, Majelis Pakar sebelumnya mengantongi tiga hingga empat nama kandidat kuat sebelum akhirnya sepakat memilih Mojtaba.
Langkah cepat ini diambil untuk mengisi kekosongan kekuasaan di tengah masa berkabung nasional 40 hari. Iran kehilangan sosok Ayatollah Ali Khamenei yang gugur dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari lalu.
Tolak 'Sandiwara' Damai Barat
Menanggapi wacana gencatan senjata yang mulai dilempar pihak Barat, Teheran menunjukkan sikap skeptis yang mendalam. Baghaei bahkan melabeli ajakan damai tersebut sebagai 'sandiwara lucu'.
Baca Juga: Netanyahu Diisukan Tewas, di Mana PM Israel setelah Serang Iran?
Iran mengaku kapok berkaca pada pengalaman Juni 2025. Saat itu, Teheran menyepakati gencatan senjata atas permintaan AS dan Israel, namun serangan justru kembali meletus tak lama kemudian. "Seluruh rakyat kini bulat untuk membela diri. Fokus utama kami adalah melindungi kedaulatan dan integritas wilayah Iran," tambahnya.
Motif Regime Change di Balik Serangan
Konflik mematikan ini dipicu oleh gempuran udara AS-Israel yang awalnya diklaim untuk melumpuhkan fasilitas nuklir. Namun, motif sebenarnya akhirnya terkuak setelah Washington dan Tel Aviv secara terbuka mengakui ambisi mereka melakukan regime change atau perubahan kekuasaan di Iran.
Serangan tersebut memicu balasan keras dari Teheran melalui peluncuran rudal balistik ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di Timur Tengah. Eskalasi ini turut menyeret kecaman dari Presiden Rusia Vladimir Putin, yang menilai pembunuhan Ali Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional yang sangat sinis.
Baca Juga: Konflik Memanas, Iran Resmi Boikot Piala Dunia 2026
Kini, dengan kepemimpinan di tangan Mojtaba Khamenei, arah kebijakan luar negeri Iran diprediksi akan semakin konfrontatif dan menutup pintu bagi janji-janji diplomasi dari Gedung Putih. (*)
Editor : Hernawati