KALTIMPOST.ID, SAMARINDA – Persoalan sektor pertanian di Kalimantan Timur tidak hanya terjadi pada luas lahan dan produksi padi. Pemerintah juga menemukan masalah serius pada kualitas hasil penggilingan padi.
Persentase jumlah beras yang dihasilkan dari gabah setelah digiling atau rendemen beras di Kaltim masih sangat rendah dibanding rata-rata nasional. “Berdasarkan data dari Bulog, rendemen beras di Kaltim termasuk yang paling rendah secara nasional,” ujarnya.
Menurut Fahmi, dari setiap gabah yang digiling, jumlah beras yang dihasilkan hanya sekitar sepertiga. “Di beberapa sentra produksi seperti Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara, dan Paser, rendemennya hanya sekitar 33 persen,” jelasnya.
Baca Juga: Tiga Daerah Ini Jadi Tulang Punggung Produksi Beras Kaltim
Padahal secara nasional rata-rata rendemen beras mencapai sekitar 50 persen. Rendahnya angka tersebut membuat produksi beras yang dihasilkan dari gabah menjadi jauh lebih kecil.
Salah satu penyebabnya adalah metode budidaya padi yang masih menggunakan teknik tradisional. “Masih ada petani yang menanam dengan sistem tebar benih langsung (tabela), sehingga banyak tanaman yang rebah,” kata Fahmi.
Selain itu kualitas benih yang digunakan juga belum sepenuhnya optimal. Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kondisi infrastruktur penggilingan padi yang masih sederhana.
Banyak penggilingan padi di daerah masih menggunakan mesin tradisional yang kurang efisien. Akibatnya beras yang dihasilkan sering kali pecah atau berubah menjadi menir. Keterbatasan fasilitas pendukung seperti mesin pengering dan gudang penyimpanan juga memperburuk kondisi tersebut.
Baca Juga: Data Sawah Kaltim Bermasalah, Selisih Lahan Produktif Capai 15 Ribu Hektare
Oleh sebab itu pemerintah daerah mulai mencari solusi untuk memperkuat sektor hilir pertanian, khususnya pada pengolahan hasil panen. Salah satu langkah yang sedang didorong adalah pengadaan rice milling unit (RMU) atau penggilingan padi modern.
“Kalau penggilingannya bisa lebih modern, tentu kualitas beras yang dihasilkan juga akan lebih baik,” jelas Fahmi. Penguatan sektor hilir itu diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi sekaligus menambah nilai ekonomi bagi petani.
Dengan perbaikan sistem pengolahan hasil panen, produksi beras Kaltim diharapkan tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitasnya. (riz)
Editor : Muhammad Rizki