Sementara itu, senjata yang lebih canggih disebut masih disimpan sebagai cadangan.
Juru bicara IRGC Brigadir Jenderal Ali Mohammad Naeini mengatakan sejak konflik dimulai pada 28 Februari, Iran telah meluncurkan sekitar 700 rudal dan 3.600 drone ke sasaran yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan Israel. Ia menegaskan rudal yang saat ini digunakan berasal dari produksi lama.
Baca Juga: Setelah Miliki 6 Jari, Video Benjamin Netanyahu Minum Kopi Diduga Pakai AI Tingkat Tinggi
Menurut Naeini, Iran masih memiliki banyak persenjataan baru yang belum dikerahkan dalam pertempuran. Ia menyebut kemampuan militer Iran telah berkembang pesat sejak konflik-konflik sebelumnya.
Dalam pernyataannya, Naeini juga menantang klaim Amerika Serikat terkait kekuatan angkatan laut Iran. Ia menyebut kapal perang AS tidak berani mendekati wilayah Teluk Persia dan memilih bertahan di sekitar Teluk Oman.
Ia mengklaim kapal-kapal militer Amerika berada pada jarak sekitar 300 hingga 400 mil dari kawasan Teluk Persia setelah Iran meluncurkan serangan rudal jelajah. Menurutnya, serangan tersebut memaksa kapal-kapal itu mundur dari area operasi.
Naeini bahkan menuding sebagian kapal AS kemungkinan mengalami kerusakan dan ditarik keluar dari misi untuk menjalani perbaikan. Pernyataan ini sekaligus menjadi respons Iran terhadap klaim Washington yang menyebut kekuatan angkatan laut Iran telah dilemahkan.
Iran juga menegaskan Selat Hormuz tetap berada di bawah kendali penuh mereka dan menjadi wilayah strategis yang tidak mudah ditembus oleh kekuatan militer asing.
Editor : Uways Alqadrie