Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Fasilitas Bea Cukai dan Imigrasi Rampung April 2026, Bandara APT Pranoto Samarinda Incar Rute Internasional Jarak Pendek

Eko Pralistio • Selasa, 17 Maret 2026 | 16:28 WIB

Bandara APT Pranoto Samarinda resmi jadi bandara internasional. Kini tinggal menunggu kesiapan rute dan maskapainya.
Bandara APT Pranoto Samarinda resmi jadi bandara internasional. Kini tinggal menunggu kesiapan rute dan maskapainya.

KALTIMPOST.ID, SAMARINDA—Sejumlah syarat teknis hingga administrasi yang dikejar Bandara APT Pranoto Samarinda dalam menyambut statusnya sebagai Bandara internasional hampir rampung.

Namun dibalik kesiapannya itu masih ada satu hal yang belum pasti, yakni kehadiran maskapai yang akan membuka rute penerbangan internasional. Kepala Kantor Badan Layanan Umum UPBU APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan, dikonfirmasi pada Selasa (17/3/2026) mengatakan, bandara pada dasarnya sudah siap melayani penerbangan internasional, setidaknya untuk skema charter.

Sementara untuk penerbangan reguler, sejumlah fasilitas disebutnya masih dalam tahap penyelesaian dan ditargetkan rampung pada April 2026. Fasilitas yang dimaksud mencakup area kedatangan internasional, layanan imigrasi, hingga bea cukai.

Baca Juga: Puncak Arus Mudik di Bandara APT Pranoto Samarinda Diprediksi Terjadi pada 18 Maret, Penerbangan ke Daerah Ini Selalu Penuh..

Dari sisi perizinan, seluruhnya disebut telah tersedia. Artinya, kendala yang tersisa lebih bersifat teknis. Dalam kondisi saat ini, Kadek menyebut penerbangan internasional sebenarnya sudah bisa dilakukan, tetapi masih terbatas dengan sistem buka-tutup.

Terminal untuk keberangkatan dan kedatangan internasional juga telah dipisahkan sambil menunggu kelengkapan fasilitas. Kendati begitu, status internasional tidak serta-merta menghadirkan rute baru. Keputusan tetap berada di tangan maskapai.

Kepala UPBU APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan. (EKO PRALISTIO/KALTIM POST)
Kepala UPBU APT Pranoto Samarinda, I Kadek Yuli Sastrawan. (EKO PRALISTIO/KALTIM POST)

“Bandara hanya menyediakan prasarana. Pesawat dan rute ada di maskapai,” kata Kadek. Di tengah itu, lanjut dia, industri penerbangan nasional juga sedang tidak dalam kondisi ideal. Dari total armada pesawat di Indonesia, sekitar 190 unit tidak beroperasi. Sekitar 378 pesawat yang saat ini siap digunakan.

Situasi inilah membuat ekspansi rute baru menjadi terbatas. Dalam konteks itu, peran pemerintah daerah (pemda) dinilai menjadi kunci. Kadek menilai, tanpa dorongan aktif dari pemda, sulit menarik minat maskapai, terutama maskapai asing.

Baca Juga: Tetap di Bawah Kemenhub, Ini Alasan Bandara APT Pranoto Samarinda Belum Dikelola Angkasa Pura Meski Jadi Bandara Internasional

Pihaknya menggarisbawahi pemda dapat mengambil peran lebih jauh, misalnya dengan mengundang maskapai atau menggelar forum promosi potensi daerah. Sebab, potensi tersebut, kata dia, mencakup investasi di Ibu Kota Nusantara (IKN), kawasan ekonomi khusus, hingga destinasi wisata seperti Maratua dan Derawan, Kabupaten Berau.

Bandara, dalam hal ini, hanya menjadi instrumen pendukung. Fungsinya adalah membuka akses agar orang datang, berinvestasi, dan berbelanja di daerah. Sementara dari sisi infrastruktur, landasan pacu Bandara APT Pranoto memiliki panjang 2.250 meter dan lebar 45 meter. Ukuran ini dinilai cukup untuk melayani penerbangan internasional jarak pendek hingga menengah.

Sebagai gambaran, Kadek mensimulasikan, untuk rute Samarinda–Singapura yang ditempuh sekitar tiga jam masih bisa dilayani pesawat seperti Airbus A320 atau Boeing 737-800 dengan kapasitas penuh. Namun, untuk penerbangan jarak jauh seperti ke Jeddah, kondisi tersebut belum memungkinkan.

Baca Juga: Penerbangan Perintis Subsidi di Bandara APT Pranoto Tetap Berjalan di 2026

Di sisi lain, Bandara APT Pranoto juga dihadapkan pada persaingan dengan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, yang telah lebih dulu beroperasi dan memiliki basis penumpang kuat.

Jarak Samarinda–Balikpapan yang hanya sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan darat membuat keduanya berada dalam satu pasar yang relatif sama. Dampaknya, potensi penumpang berpeluang terbagi.

Saat ini, jumlah penumpang harian di APT Pranoto berkisar 2.000 orang. Sementara Bandara Balikpapan mampu melayani sekitar 5.000 hingga 6.000 penumpang per hari.

Karena itu, dorongan untuk memperbesar pasar menjadi penting. Dalam hal ini, pemerintah daerah dipandang memiliki peran strategis untuk memastikan status internasional Bandara APT Pranoto tidak berhenti sebatas label.

"Kami butuh dari pemda (pemprov Kaltim) atensinya. Kalau bisa mengundang maskapai asing atau mengundang maskapai di sini (Indonesia), kita bikin forum, kita menyampaikan potensi apa yang ada di Kaltim ini. Karena terus terang Samarinda ini beratnya karena sudah ada balikpapan," katanya. (riz)

Editor : Muhammad Rizki
#maskapai #IKN #Bandara APT Pranoto Samarinda #kaltim #samarinda #penerbangan internasional