Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan Kesehatan

Intisari Khutbah Idulfitri Guru Besar UIN Jakarta: Momentum Maaf Tulus untuk Rekonsiliasi dan Persatuan Bangsa

Thomas Dwi Priyandoko • Sabtu, 21 Maret 2026 | 07:00 WIB

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha. (Istimewa)
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha. (Istimewa)

KALTIMPOST.ID – Idulfitri tidak hanya menjadi perayaan kemenangan setelah Ramadan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat rekonsiliasi sosial dan persatuan bangsa di tengah dinamika politik dan tantangan global.

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Achmad Tjachja Nugraha, menegaskan bahwa makna Idulfitri sejatinya adalah kembali kepada kesucian hati dan memperbaiki hubungan antarmanusia, termasuk dalam kehidupan berbangsa.

Menurutnya, tradisi saling memaafkan yang menjadi ciri khas Idulfitri tidak boleh berhenti pada simbol atau formalitas semata.

“Maaf bukan sekadar berjabat tangan, tetapi pembersihan hati dan keikhlasan untuk menghapus dendam serta membuka ruang rekonsiliasi yang tulus,” ujarnya di Jakarta.

Baca Juga: Naskah Khutbah Idulfitri 2026 Terbaru PDF: Menyentuh Hati Jamaah, Jika Ini Idulfitri Terakhir Kita

Dalam perspektif ajaran Islam, nilai memaafkan memiliki kedudukan penting. Hal ini tercermin dalam Surah Ali Imran ayat 134 yang memuji orang-orang yang mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.

Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi kebangsaan yang kerap diwarnai perbedaan pandangan hingga polarisasi di ruang publik. Karena itu, Idulfitri disebut sebagai “risalah nasional” untuk menguatkan nilai persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan.

Selain itu, Al-Qur’an juga menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan dan mendamaikan konflik, sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 tentang pentingnya mendamaikan sesama.

Prof Achmad menilai, tradisi saling memaafkan dapat menjadi fondasi kuat untuk mempererat kohesi sosial di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai momentum refleksi bersama, tidak hanya dalam lingkup keluarga, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

“Jika dimaknai secara mendalam, Idulfitri bisa menjadi gerakan moral untuk memperbaiki hubungan sosial dan memperkuat persatuan bangsa,” tegasnya.(*)

 

Editor : Thomas Priyandoko
#uin jakarta #persatuan #Idul Fitri 1447 H #kesatuan